Hans Bague Jassin Tokoh Pendidikan Dari Gorontalo

By | 01/11/2019

Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin merupakan pusat dokumentasi sastra terlengkap dan terbesar di Indonesia. PDS HB Jassin berlokasi di Taman Mini Ismail Marzuki, Jalan Cikin Raya No. 73 adalah peninggalan sastrawan ternama Hans Bague Jassin atau lebih dikenal dengan HB Jassin. Ia mengabdikan hidupnya untuk merawat dan membesarkan kesusastraan Indonesia.

Seorang pengarang dan kritikus sastra ini lahir pada tanggal 31 Juli 1917 di Gorontalo, Sulawesi Utara. Ia lahir dari pasangan Bague Mantu Jassin dan Habiba Jau. Ia memulai pendidikan dasar di HIS, dan melanjutkan ke HBS Medan. Gelar sarjana sastra diraih dari Universitas Indonesia pada tahun 1957.

Untuk mendalami bidang sastra, ia belajar ilmu perbandingan sastra di Universitas Yale, Amerika Serikat. Ia menguasai beberapa bahasa yaitu Inggris, Belanda, Prancis dan Jerman. Awal kecintaanya terhadap sastra dimulai dari kegemaran ayahnya membaca dan mengoreksi bacaan di perpustakaan pribadinya. Ayahnya tentu melarang Jassin membaca di perpustakaan pribadinya karena bacaan tersebut untuk orang dewasa, namun ia tak mempedulikan dan membaca koleksi tersebut secara diam-diam.

Ia juga termotivasi oleh gurunya di HIS yang sangat kreatif dalam membangkitkan minat baca siswa. Ia mulai belajar teknik mengarang dan memahami puisi. Ketika bersekolah di HBS Medan ia belajar menulis kritik dan dimuat di beberapa majalah. Ketekunannya menjadikan ia kritikus dan kolektor dokumen sastra Indonesia diperkuat setelah ia menjabat sebagai redaktur majalah sastra dan budaya, yaitu Pandji Poestaka dan Pantja Raja.

Setelah Indonesia merdeka, ia menjadi redaktur di majalah Mimbar Indonesia, Zenith, Kisah, Sastra, Bahasa dan Budaya, Buku Kita, Medan Ilmu Pengetahuan, dan Horison. Jassin sebagai redaktur memiliki otoritas dalam menilai kelayakan karya-karya yang akan dimuat di majalahnya. Satu hal yang membuat ia dihargai adalah kesediaannya berbagi ilmu, mencurahkan waktu, pemikiran dalam mengkoreksi karya disertai masukan dan saran agar tulisan tersebut menjadi lebih baik. Hampir semua pengarang pernah mendapatkan nasihatnya.

HB Jassin memiliki pekerjaan formal sebagai seorang dosen sastra di Universitas Indonesia, namun pengakuan sebagai sastrawan justru didapat dari luar kampus. Pekerjaan sebagai kritikus dan redaktur yang membuat ia diakui sebagai guru para sastrawan. Selain kritikus sastrawan, ia juga dikenal sebagai dokumentator sastra terlengkap. Sekitar 30.000 buku dan majalah sastra, guntingan surat kabar, dan catatatan-catatatan pribadi pengarang yang tersimpan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Warisan Jassin yang nyata dan berharga ini menyimpan koleksi sastra Indonesia terlengkap, manuskrip karya, korespondensi, hingga direktori foto para sastrawan dan kegiatan sastra di Indonesia.

Sejumlah penghargaan diberikan di antaranya adalah Satyalencana Kebudayaan, Bintang Mahaputera Naraya dari Pemerintah Republik Indonesia, dan pemberian gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Indonesia. H.B. Jassin meninggal di usia 82 tahun pada tanggal 11 Maret 2000 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Sebagai penghormatan atas jasa-jasanya, ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata, Jakarta.