Harga Diri Brand Terjebak di Perang Harga

By | 06/01/2020

Banyak UKM-UKM yang terjebak dengan memasang harga semurah mungkin dengan harapan produknya akan cepat dilirik pasar. Padahal mereka tidak sadar, positioning harga yang sedemikian akan menjatuhkan brand mereka sendiri. Murah bukan berarti jaminan pasar akan menyerbu produk Anda dipasaran. Sebaliknya, bisa jadi pasar akan memandang remeh produk Anda tidak berkualitas dibanding yang lain.

Sekarang coba perhatikan, berapa banyak smart phone yang beredar di pasaran ? Coba hitung berapa banyak yang paling sering digunakan oleh kalangan atas ? Paling hanya mengerucut pada dua nama, Samsung dan Apple. Padahal banyak produk smartphone yang beredar selain kedua merk tersebut, Smartphone dari China misalnya, hanya saja harganya mugnkin lebih murah dibandingkan Samsung atau Apple. Pertanyaannya, faktor apakah yang membuat harga smartphone itu bisa beda jauh? Padahal dari segi fitur yang ditawarkan mungkin tidak jauh berbeda. Faktor Branding tentu saja. Orang sudah lama mengenal brand Samsung maupun Apple dengan kecanggihan fitur yang dimilikinya dibandingkan produk smartphone lain. Sehingga orang rela membayar mahal untuk produk keluaran dua brand tersebut.

Sama halnya pada bisnis bimbingan belajar. Dengan harga yang murah dan terjangkau, orang tua dari anak-anak yang kesulitan belajar justru akan meragukan bimbingan belajar yang bersangkutan. Apa iya dengan bayaran ratusan ribu per bulan, anak-anak bisa jadi lebih pintar ? kalimat seperti itu mungkin akan terlintas di benak mereka.

Maka tidak heran banyak bimbingan belajar yang pasang harga tinggi namun bisa menggaransi kemampuan siswa-siswanya setelah belajar di sana. Dari kedua contoh di atas, sebetulnya kita bisa melihat bahwa preferensi pasar terhadap suatu produk atau jasa tidak semata-mata dibatasi oleh faktor harga. Tetapi ada juga faktor lain seperti gengsi yang dijual dan dipertimbangkan oleh pembeli.

Memang terdapat dua macam logika berpikir pasar soal harga. Logika highend dan logika low end. Pasar high-end, tidak akan mempan diberi produk bagus tapi harganya terjangkau. Logika pasar ini menuntut adanya nilai lebih dari suatu produk. Gengsi. Mereka tidak hanya menilai bagus atau tidaknya sebuah produk berdasarkan fitur yang ditawarkan, tetapi juga nilai lebih yang akan ditimbulkan produk tersebut ketika mereka menggunakannya. Sebaliknya pada logika pasar low-end, sebagus apapun produk yang ditawarkan, pasar akan selalu mempertimbangkan harga yang lebih terjangkau.

Inilah yang harus diperhatikan oleh para pelaku usaha, sebab pendekatan pasar pada kedua logika tersebut berbeda. Kedua pasar di atas merujuk pada sebuah model piramid. Semakin high-end, pasarnya semakin mengerucut ke atas. Untuk yang kelas menengah ke atas sifatnya memang harus punya pride atau gengsi barangnya harus dibuat premium tanpa cacat, bahkan jika memungkinkan limited edition. Sementara kalau di low-end yang penting margin jualannya banyak. Harga bisa menjadi positioning, banyak UKM kita melakukan kesalahan dengan membanting harga semurah mungkin, padahal tidak harus seperti itu juga.

Memilki pelanggan high-end jangan anggap mudah, anda harus jeli dalam promosi dan membuat model promosi yang menarik minat mereka untuk belanja di tempat anda. Untung saja ada jasa seo semarang yang sudah berpengalaman dalam menentukan target market anda. Gunakanlah jasa tersebut agar anda tidak harus lagi susah payah dalam promosi.