07 Apr

Rasa Juang Rasa Persatuan

Rasa Juang Rasa Persatuan

*Sebuah pengantar dan pemantik Festival Sastra 2018 Kemasindo UNS

Apakah kita pernah menyadari kekuatan tersembunyi dari sebuah tulisan? Tulisan sastra khususnya? Apakah menurut saudara-saudara deretan kata yang ditulis di pembaringan, di teras rumah, di warung makan, di warung kopi, di pinggir jalan dan bahkan dimanapun mampu mempengaruhi gejolak yang besar bagi suatu negara?

Gejolak apa yang kau maksud bung? Lalu begitu kami ditanya. Gejolak politik? Gejolak ekonomi? Gejolak sosial? Gejolak kebudayaan? Atau mungkin gejolak kesadaran?

Apapun gejolaknya bung, kami meyakini sastra punya pengaruh akan semua gejolak itu, persis seperti apa yang dikatakan Rendra dalam buku Rendra Dan Kritik Sosial, bahwa sastra dan seni sangat berpengaruh pada tataran kesadaran. Pertumbuhan dan perkembangan apapun boleh dan bisa terjadi di negeri kita tercinta, Negara Kesatuan Republik Indonesia.  Namun siapa yang peduli terhadap pertumbuhan kesadaran?

Dalam kancah politik presiden kita mencanangkan nama kabinetnya “Kabinet Kerja” dengan slogannya “Revolusi Mental” dan salah satu tujuan utamanya adalah ‘pembangunan infrastruktur’.  Jalan demi jalan dibangun untuk menghubungkan Indonesia. Di Papua, di Sumatera, di Kalimantan, di Jawa, di Bali dan pulau-pulau lainya. Disamping pertumbuhan pembangunan itulah sastra dan seni harus selalu ada sebagai ‘penyeimbang’. Penyeimbang antara ambang batas sadar dan ketidaksadaran. Teringat kami pada puisi Rendra perihal potret pembangunan dalam puisi: Sajak Pertemuan Mahasiswa

Dan kita disini bertanya:

“maksud baik saudara untuk siapa?

Saudara berdiri di pihak yang mana?”

Begitu sedikit kutipannya. Bila boleh kami membuat sebuah analisa pendek. Puisi itu ditulis untuk menggoyahkan posisi pemerintah Rezim Soeharto, karena puisi itu ditulis pada tahun 1977. Dan bila kami boleh membawa puisi itu pada konteks zaman now. Kita bisa saja tujukan puisi ini pada ‘pakdhe Jokowi’. “Bapak itu sering bangun jalan disana-sini untuk kepentingan siapa pak?”. Atau bisa juga kita tujukan puisi itu kepada kampus tempat kita belajar, kepada sekolah tempat kita di didik, kepada rumah tempat kita ditempa, kepada Indonesia tempat kita akan berakhir, dan kepada diri kita sendiri tempat kita berkontemplasi. Kepada siapapun! Karena kami percaya tingkat kesadaran adalah sasaran empuk sastra. Karena kami juga cukup merasa prihatin terhadap respon masyarakat yang terlalu dangkal dan sempit terhadap sastra. Ouh Rendra. Seandainya kau masih hidup akan kau apakan puisi Ibu Sukmawati Soekarno Putri berjudul: Ibu Indonesia.

Tiba-tiba telinga kami terngiang atas puisi Aku Masih Sangat Hafal Nyanyian Itu karya Mustofa Bisri

Indonesia kini tiba-tiba

slalu di hina-hina bangsa

disana banyak orang lupa

dibuai kepentingan dunia

Hati kami tiba-tiba menjadi sendu dan semakin sendu ketika puisi – contohnya karya Sukmawati berjudul Ibu Indonesia – dihakimi oleh perspektif golonganisme yang sempit

Aku tidak tahu syariat Islam

Yang kutahu sari konde ibu Indonesia

Sangatlah indah

Lebih cantik dari cadar dirimu

Lebih menarik dari alunan azan mu

Sendu dicampur prihatin itu berubah menjadi semangat perjuangan Kerawang-Bekasi puisi karya Chairil Anwar

Kami yang kini terbaring antara

Kerawang Bekasi

tidak bisa teriak “merdeka”dan angkat

senjata lagi

Yang mengingatkan kami akan terbentuknya Indonesia bukanlah perjuangan dari satu golongan. Lalu kami jadi teringat pada puisi sastrawan kita yang hilang ditelan kekuasaan:

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang

Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan

Dituduh subversif dan mengganggu keamanan

Maka hanya ada satu kata: lawan!

Diskusi utama tulisan kami ini adalah ajakan untuk saudara-saudara sekalian: mahasiswa atau bukan, pegiat sastra atau bukan, siapapun. Karena percayalah, saat ini ‘semua masyarakat adalah “sastrawan”’. Kita tidak perlu legitimasi apapun dan dari siapapun untuk menulis & menjadi sastrawan. Sastrawan Facebook, sastrawan Line, sastrawan Instagram, sastrawan WA Story dan sastrawan medsos lainya untuk menjadi sastrawan di Festival Sastra 2018 Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia (Kemasindo) UNS.

Menjadi sastrawan yang menuliskan tentang perjuangan akan rasa persatuan yang sangat luas maknanya. Tidak perlu berpikir keras juga muluk-muluk. Tulislah hal-hal sederhana dalam konteks perjuangan untuk perjuangan bangsa. Lihatlah “tukang sampah” yang setiap hari mengumpulkan sampah dari satu titik ke titik lainya. Bukankah itu adalah salah satu bentuk dari perjuangan terhadap persatuan. Karena dia memungut dan mengumpulkan sampah dari semua golongan: sampah organik, sampah non organik, sampah beling & kaleng bahkan sampah masyarakat ikut dia pungut dan satukan untuk dibuang di satu titik pembangunan akhir.

Tujuannya satu: kami ingin menghadirkan diskursus kebudayaan yang berujung pada rasa ‘persatuan’. Persatuan Bangsa Indonesia dari berbagai golongan, etnis & ras.

Tentu saja kami percaya saudara-saudara sering menulis dan minimal curhat di jejaring sosialnya, “aku rindu” –misalnya. Maka pada kesempatan kali ini, kami mahasiswa UNS dari golongan Kemasindo mempersembahkan Festival Sastra sebagai wadah bagi masyarakat “sastrawan” untuk menuangkan & menggagaskan karyanya dalam lingkup tema “Rasa Juang, Rasa Persatuan”. Dan ingat, kirimkan karya yang belum pernah di publikasikan . karena orisinalitas adalah harga tinggi yang patut kita junjung.

Selamat berkarya!

Ttd panitia Festival Sastra 2018

Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia UNS