Aliran Mu’tazilah

Aliran Mu’tazilah

Aliran mu’tazilah adalah aliran pemikiran Islam yang terbesar dan tertua, di mana aliran mu’tazilah telah memainkan pereanan yang sangat penting.

Orang yang hendak mengetahui filsafat Islam yang sesungguhnya dan yang berhubungan dengan agama dan sejarah pemikiran Islam haruslah menggali buku-buku yang dikarang orang-orang mu’tazilah, bukan dikarang oleh orang-orang lazim disebut filosof-filosof Islam, seperti Ibn Sina, dan sebagainya.

Asal-usul Nama Mu’tazilah

Nama mu’tazilah bukan ciptaan orang-orang mu’tazilah sendiri, tetapi diberikan oleh orang-orang lain.

Mu’tazilah menamakan dirinya “ahli keadilan dan keesaan” (ahlul adl wat tauhid).

Nama mu’tazilah diberikan karena:

a). orang mu’tazilah menyalahi pendapat sebagian besar umat, karena mereka (orang-orang mu’tazilah) mengatakan bahwa orang fasik, yaitu orang yang melakukan dosa besar, tidak mukmin tidak pula kafir.

b). Wasil bin Ata’, pemdiri aliran mu’tazilah , berbeda pendapat dengan gurunya, yaitu Hasan Basri dalam hal di atas , yang karenannya ia memisahkan diri dari pelajaran yang diadakan gurunya dan berdiri sendiri, kemudian mendapatkan pengikut banyak. Hasan BAsri berkata: “Wasil telah memisahkan diri dari kami”. Sejak saat itu maka Wasil dan para pengikutnya disebut “golongan yang memisahkan diri”(mu’tazilah).

c). Menurut Ahmad Amin, yang mula-mula memberikan nama mu’tazilah adalah orang-orang Yahudi. Seperti diketahui bahwa sepulah mereka dari tawanan di Siria (perang Meccabea melawan Antiochus IV, Raja Siria, abad keempat atau ketiga SM), timbullah di antara mereka golongan Yahudi “Pharisee” yang artinya “memisahkan diri”. Maksud sebutan ini tepat sekali dipakai untuk orang-orang mu’tazilah. Selain itu golongan Yahudi Pharisee mirip dengan golongan Mu’tazilah yaitu bahwa perbuatan bukan Tuhan yang mengadakannya.

Suasana Lahirnya Mu’tazilah

Sejak Islam meluas, banyaklah bangsa-bangsa yang masuk Islam untuk hidup di bawah naungannya.

Akan tetapi, tidak semuanya memeluk dengans egala keikhlasan, ketidakikhlasan ini terutama dimulai sejak zaman Muawiyah, karena mereka telah memonopoli segala kekuasaan pada bangsa Arab sendiri.

Tindakan tersebut menimbulan kebencian terhadap bangsa Arab dan keinginan menghancurkan Islam dari dalam, sumber keagungan dan kekuatan mereka.

Di antara musuh-musuh Islam dari dalam ialah golongan an Rafidah, yaitu golongan Syiah ekstrim yang banyak mempunyai unsur-unsur kepercayaan yang jauh sama sekali dari ajaran islam, seperti kepercayaan agama Mani dan golongan skeptik yang pada waktu itu tersebar luas di kota-kota Kufah dan Basrah, juga golongan tasawuf inkarnasi termasuk musuh Islam.

Dalam keadaan demikian itu muncullah golongan mu’tazilah yang berkembang dengan pesatnya sehingga mempunyai sistem/ metode dan pendapat-pendapatnya sendiri.

Meskipun banyak golongan-golongan yang ditentang kaum mu’tazilah namun mereka sendiri sering-sering terpengaruh oleh golongan-golongan tersebut, karena pendapat dan pikiran selalu bekerja, baik terhadap lawan maupun kawan, baik menerima maupun membantah bahkan sering-sering masuk kepada lawanya tanpa dikehendaki atau disengaja.


Comments are closed.