Pengaruh Jepang pada Masa Kejayaannya

Pengaruh Jepang pada Masa Kejayaannya

Pengaruh Jepang dimulai sejak terciptanya ambisi Jepang untuk menyatukan wilayah Asia Timur Pasifik lewat Asia Timur Raya setelah masa kejayaannya baik dalam bidang ekonomi industri maupun militer dan politik, hingga hal itu menyebabkan Jepang berani untuk ambil andil dalam Perang Dunia ke II yang disertai aspek hitoris pernah memenangkan dan ikut serta dalam PD I dan dipercayai untuk memengang wilayah Pasar Asia yang dikuasai oleh Eropa. Hal-hal tersebutlah yang semakin menambah semangat ekspansi Jepang ke wilayah Asia Timur dan Pasifik.

Tetapi perkembangan terhadap kejayaan Jepang paling nampak ketika pendudukan Amerika dimana kehidupan politik, ekonomi, militer, sosial, dan pendidikan ini lebih terarah dan membawa modernisasi serta perkembangan yang sangat luar biasa dan signifikan.

Awalnya Jepang masih bersifat ragu dan waspada akan pendudukan Amerika disebabkan faktor historis dahulu yang sempat mengisolasi diri dari pengaruh Barat. Tetapi ternyata ketakutan Jepang salah, malahan dengan pendudukan Amerika Serikat membuat Jepang semakin maju dan merasa ingin membagikan pengaruh positif serta mengurangi perang (menciptakan perdamaian).

Peranan Jepang menyebarkan pengaruh yang paling bisa dilihat tingkat signifikannya adalah meningktkan kesejahteraan dan keamanan di wilayah Asia Timur dan Pasifik. Kegaitan perkonomian yang sering dilakukan adalah transfer teknologi dan modal ke negara yang sedang menghadapi perkembangan di kawasan Asia Timur dan Pasifik, melakukan kerjasam internasional secara sehat dan efisien baik di bidang perkembangan produksi maupun pangan, membuka pasar untuk barang-barang industri, memperkenalkan etos kerja yang baik kepada masyarakat Asia Timur dan Pasifik, serta mendorong pembentukan masyarakat Asia Timur (East Asia Community) yang baik dan sehat (Yani, 2010).

Dalam peranan sosial dan politik Jepang menyebarkan pengaruh untuk memiliki sifat nasionalisme karena dalam keberhasilan dan kejayaan Jepang sendiri tidak terlepas dari pengaruh Nasionalisme yang sangat menjadi gaya hidup masyarakat Jepang. Jepang juga melaksanakan politik luar negeri terlebih dengan Amerika Serikat dan PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) yang merubah pola pikir Jepang dari yang “gila perang” menjadi cinta damai (Yani, 2010).

Dalam peranan pertahanan dan kemanan Jepang melakukan perubahan yang disertai dengan perkembangan kemampuan militer, disini Jepang melakukan kegiatan pertahanan tidak hanya untuk Asia Timur dan Pasifik saja tetapi hingga wilayah Asia Tenggara (ASEAN). Contohnya adalah menjadi penghubung ke Korea Utara untuk tidak mengirimkan rudal pada perang Korea. Bahkan saat menurunnya/melemahnya kredibilitas Amerika Serikat di wilayah Asia, Jepang ditunjuk untuk menjadi penjaga pengganti wilayah Asia (Yani, 2010).

Tetapi penyebaran pengaruh yang dilakukan Jepang ini tidak semudah yang dibayangkan dan diperakan, karena banyak sekali pertentangan bahkan banyak perang yang terjadi. Perang yang sering dilakukan oleh Jepang adalah perang bersama dengan China, hal ini sudah terjadi sejak awal pembentukan Asia Timur Raya dimana Jepang ingin China menjadi sekutu/aliansinya yang awalnya ditawarkan secara damai tetapi China menolak sehingga harus mengalami perang China-Jepang II dan Perang Pasifik antara Jepang dengan Amerika yang memperebutkan kedudukan.

Hal ini sudah diakhiri dengan kemenangan Amerika Serikat dan Jepang diduduki bahkan hingga masa Perang Dingin Jepang masih menjadi aliansi dan pusat tenaga militer Amerika untuk menghindari penyebaran komunisme di Asia Timur dan Pasifik (Syahrin, 2018).

Tetapi persaingan China dan Jepang masih sering berlanjut sehabis perang Pasifik ini berakhir. Tetapi persiangan antara China dan Jepang ini lebih sering ke bidang ekonomi daripada bidang militer. Seperti pada tahun 1990 an China dan Jepang sedang berada di titik kesuksesan dibidang ekonomi, keduanya ini mengalami kenaikan yang sangat signifikan bahkan antara China dan Jepang juga berbut menyebarkan pengaruh terhadap bagaimana sistem ekonomi yang baik yang menyebabkan mereka maju.

Contohnya pada forum ASEAN Plus Three (APT), Six Party Talks (6PT), dan ASEAN Regional Forum (ARF) yang semuanya berada di wilayah Asia Tenggara ini tidak luput dari target perebutan China dan Jepang untuk penyebaran pengaruh tentang bagaimana sistem ekonomi yang baik dan benar. Disini Jepang menciptakan sebuah forum yaitu East Asia Summit yang mencatat tentang kekuatan yang unggul secara ekonomi di wilayah kawasan, berikut peranan/ pengaruh Jepang di Asia Tenggara (Veronica, 2014):

  • Di APT, Jepang mengusulkan sistem Comprehensive Economic Patnership, dimana Jepang dan Asia Tenggara melakukan sebuah perjanjian investasi dan perdagangan yang bisa membangun IPTEK, sumber daya manusia, dan kegiatan pariwisata. Dan Jepang terlihat lebih unggul karena selain menyebarkan pengaruh ekonomi ternyata Jepang juga menyebarkan pengaruh pertahanan keamnan dengan melakukan pengamanan Selat Malaka dan penerapan peace-keeping operations. Selain bidang militer pertahanan, ternyata Jepang juga menyebarkan pengaruh terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
  • Di 6PT, keterlibatan pengaruhnya didasari oleh kekhawatiran Jepang terhadap isu pengembangan misil dan nuklir di wilayah Korea Utara. Disini Jepang menginginkan adanya Resolusi Damai agar Korea Utara tidak jadi mengirimkan nuklir, tetapi usaha ini ditolak oleh anggota 6PT lainnya sehingga pengaruh Jepang di 6PT ini tidak terlalu banyak.
  • Di ARF, disinipun Jepang tidak menyebarkan pengaruh terlalu banyak karena memiliki pengaruh agar Negara Asia Tenggara ini membentuk institusi multilateral yang lebih lagi (atas usulan Nakayama Taro, 1991). Hal ini malah menjadikan ajang persaingan besar-besaran antara Jepang dan China.

Tak hanya persaingan ekonomi saja, persaingan militer pun pernah terjadi meski tak sehebat waktu Perang China-Jepang II dahulu. Persiangan militer ini merupakan suatu ganjaran yang cukup berat untuk Jepang dalam menyabarkan pengaruh masa kejayaan setelah gagalnya pembentukan Asia Timur Raya, terlebih pada saat sistem Balance of Power dimana mulai timbul pakta-pakta militer baru untuk saling mengimbangi perubahan dan kekuasaan. Serta baik China maupun Jepang juga mencari aliansi masing-masing untuk saling mendukung dan memperkuat kekuatan militer yag mereka punya.

Baca Juga: Politik Isolasi Jepang pada Masa Pemerintahan Tokugawa (1638-1863)

Disini China bersikeras untuk menolak Jepang menyebrkan pengaruhnya ke China dengan alasan tidak ingin terulang kejadian seperti dahulu dan bahkan membuat sebuah penjagaan yang bernama Tentara Pembebasan Rakyat (TPR) atau China People’s Liberation Army (PLA), tetapi disini hanya melakukan persaingan senjata saja. Dan Chima memiliki strategi untuk melawan Jepang yaitu (Yuliartono, 2009) :

  • Faktor pertama, ideologis dan normatif yaitu akibat perbedaan Ideologis antara China (Komunis) dan Jepang (Liberalis), yang menyebabkan Partai Komunis China bahkan Uni Soviet bahkan bisa langsung membantu.
  • Faktor kedua, menyerang tujuan nasional yang dijadikan program utama agar bisa digagalkan.
  • Faktor ketiga, faktor geografis dimana China menguatkan angakatan perang diwilayah perbatasan baik dari darat maupun laut.

Berikut penyebab terjadinya persiangan senjata antara China dan Jepang pada masa Balance of Power ini adalah (Agusalim, 1999) :

  • Pertama, meningkatnya kemampuan ekonomi yang membuat mereka sanggup untuk membeli serta memperbaharui kelengkapan senjata.
  • Kedua, melemahnya kekuatan Amerika Serikat sejak berakhirnya perang Vietnam Amerika Serikat dan akibat melemahnya kekuatan dan kekuasan Amerika Serikat ini menyebabkan pertengkaran untuk menyebarkan pengaruh.

Tak hanya dari China saja yang memberi hambatan untuk penyebaran pengaruh. Bahkan wilayah-wilayah lain pun juga sempat memberikan hambatan bagi Jepang untuk menyebarkan pengaruhnya, yaitu :

  • Jepang masih harus berhadapan dengan sejarah buru yang Jepang ciptakan dahulu, semasa perang Asia Pasifik. Hal ini masih menyisakan kecurigaan dari negara-negara di Asia terlebih Asia Timur dan Pasifik, mereka merasa Jepang belum bisa tulus untuk melakukan rekonsilisasi dan menyebarkan pengaruh yang positif sehingga masih banyak negara yang anti-Jepang termasuk masyarakat China dan Korea yang berimbas berkurangnya kepercayaan agar Jepang bisa memimpin Asia.
  • Kedekatan Jepang dan Amerika ini ternyata juga membawa hambatan, karena kedekatan Jepang denga Amerika Serikat ini membuat hubungan Jepang untuk lebih luas ke negara lain jadi terbatas. Hal ini dikarenakan para musuh Amerika Serikat juga tidak akan menjalin relasi/aliansi dengan Jepang, sehingga hubungan aliansi yang didapat adalah negara yang “tunduk” dengan Amerika Serikat dan Jepang serta negara yang dari awal memang berhubungan baik dengan mereka.
  • Jepang sering dikaitkan dengan Jepang merupakan “bagian” dari negara Barat, anggapan ini muncul akibat masa Restorasi Meiji ini membuat Jepang sudah dimasuki oleh bangsa Barat sehingga karena terlalu sering menjalin aliansi dengan dunia Barat bahkan banyak sistem kenegaraan yang hampir sama dengan bentuk negara demokrasi-kapitalis maka Jepang mengalami keraguan identitas dimata masyarakat Asia terlebih Asia Timur. Dan hal inilah yang menyebabkan penghambat bagi Jepang untuk memimpin Asia.

Jadi, kehidupan Jepang untuk mencapai kejayaan bahkan menyebarkan pengaruh positif ke wilayah Asia bahkan Asia Timur sering megalami pergolakan dan mosi tidak percaya, oleh sebab itu dalam kehidupan Asia Timur Jepang merupakan negara yang memiliki banyak perjuangan untuk maju dan “diakui untuk maju”.

Tetapi Jepang dengan baiknya bisa menyebarkan pengaruhnya melalui soft power dan pembuktian bahwa Jepang sudah meningkatkan perdamaian dan mengesampingkan perang dengan bergabungnya Jepang ke PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) yang sudah menjamin bahwa Jepang ingin turut serta dalam menciptakan perdamaian dunia. Dan karena itu tidak sedikit banyak negara yang terbantu dengan adanya pengaruh Jepang di segala aspek.


Comments are closed.