Perjuangan Gadis Yatim dari Boltim Meraih Mimpi Menjadi Dokter Gigi

Perjuangan Gadis Yatim dari Boltim Meraih Mimpi Menjadi Dokter Gigi

Lisa Paputungan memeluk ayahnya, Isnan Paputungan (76 tahun), ketika sang Ayah menceritakan kisah hidupnya dengan mata berkaca-kaca. Beberapa bulan ini, Isnan sudah dipasang kateter akibat sakit prostat yang dideritanya selama puluhan tahun. Sekilas keduanya nampak seperti antara kakek dan cucu, usia mereka terpaut jauh. Lisa merupakan anak tunggal dari pasangan Isnan dan Tenti Paputungan. Isnan mengaku bersama istrinya termasuk lama dikaruniai anak. Namun, sejak Lisa berumur 8 tahun, sang ibu meninggal. Lalu, Isnan sudah mulai sakit-sakitan. Lisa akhirnya diasuh oleh adik perempuan dari keluarga ibunya. “Sejak kelas empat SD, ia diasuh bibinya,” kata Isnan saat ditemui di rumahnya yang berada di Desa Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Sulawesi Utara.

Di rumah yang nampak tidak terawat tersebut, Isnan berkisah, sepeninggal istrinya, ia sudah mulai jatuh sakit karena faktor usia. Namun, karena hidup dalam keterbatasan dengan hanya mengandalkan hasil dari kebun kopra, tidaklah cukup untuk mengganti biaya berobat. Ia pun menjual kebun kopra satu satunya itu. Alasan itulah yang membuatnya kemudian menitipkan Lisa kepada adik iparnya, Masita Paputungan, 48 tahun, bekerja sebagai guru SMP yang tinggal di desa sebelah.

Masa kecil Lisa dihabiskan dengan hidup menumpang di rumah bibinya, namun karena keadaan Lisa pun tidak bisa berbuat banyak. Sebagai anak yatim, ia mengikuti kehendak keluarganya meski Lisa sendiri mengaku merindukan sosok ibunya yang pernah lekat dan pernah mengisi masa kecilnya walau cuma  sebentar.

Berprestasi di Sekolah

Pendidikan SD dan SMP diselesaikan Lisa di Boltim. Sebagai seorang guru, Masita selalu mengajarkan pada Lisa tentang pentingnya memanfaatkan waktu belajar. Apalagi, Lisa  sudah dianggap layaknya anak sendiri karena ketika itu Masita belum dikaruniai anak. Beruntung, Lisa merupakan anak yang penurut. Bahkan, Lisa termasuk siswa yang menonjol di kelas. Ia selalu mendapat ranking di sekolah. Hasil nilai ujian akhir cukup bagus hingga bisa diterima melanjutkan sekolah di SMAN 1 Manado.

Jarak antara Boltim dengan Manado sekitar 144 kilometer. Dirasakan cukup jauh, Lisa akhirnya tinggal di rumah salah seorang guru SMA yang mengajar di sekolahnya. Sementara untuk biaya hidup dan biaya sekolah, Lisa mendapat beasiswa dari pemerintah lewat program Afirmasi Pendidikan Tinggi bagi putra-putri daerah Terluar, Terdepan, dan Tertinggal (ADik 3T)

Dokter Gigi Palembang

Lisa mengaku, saat mengenyam bangku SMA di Manado dirinya tetap belajar dengan tekun karena ia selalu ingat pesan dari bibinya bahwa suatu saat kelak ia akan mampu membahagiakan orang tuanya apabila ia mampu menggapai cita-cita. “Kalau kamu nanti berhasil, kamu yang jaga semua (orang tua),” kenang Lisa mengingat pesan bibinya.

Tidak jarang di saat malam, Lisa mengaku rindu dengan Ayahnya yang tinggal sendiri di rumah. Ia khawatir jika Ayahnya jatuh sakit yang lebih parah. Bahkan, ia membayangkan lebih dari itu. Terkadang ada perasaan menyesal karena tidak selalu ada di samping Ayahnya. Namun, kekhawatiran itu ia buang jauh-jauh apalagi di sekitar rumah di Boltim masih ada sanak famili yang selalu menengok ayahnya. “Kadang kalau ingat Ayah, saya sedih,” katanya sembab.

Perjalanan hidupnya yang tidak mampu secara ekonomi dan sudah menjadi yatim sejak kecil tidak pernah menyurutkan langkahnya menggapai cita-cita. Ia selalu berprinsip, bertemanlah dengan orang-orang pintar maka kita akan ketularan pintar.  Beruntung di kelas Lisa selalu masuk peringkat sepuluh besar. Ketika ada program masuk perguruan tinggi lewat jalur SNMPTN, Lisa ikut mendaftar. Perjuangan dan doanya terkabul, ia diterima di Prodi Pendidikan Dokter Gigi, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada.

Mengetahui anak semata wayangnya diterima kuliah di UB, Isnan senang sekaligus sedih, terbayang baginya nantinya ia akan jarang bertemu dengan anaknya yang berada jauh di negeri seberang. “Saya senang, saya ingatkan agar Lisa selalu tetap bersyukur,” kata Isnan seraya menggenggam ujung tongkatnya dengan sedikit gemetar. Lisa makin erat memeluknya. Sang bibi, Masita, nampak sumringah, sesekali menyeka air mata yang meleleh, terharu melihat ayah dan anak berpelukan di ujung kursi sofa yang sudah lusuh. (Humas UB/Gusti Grehenson)

Comments are closed.