Risk Sharing dalam Asuransi Syariah

Berbeda dengan konsep risk transfer yang ada di dalam literasi asuransi konvensional sebagaimana disampaikan di atas, konsep yang diperkenalkan atau diterapkan oleh asuransi Syariah menggunakan metode risk sharing/sharing of risk atau berbagi risiko. Pembagian risiko tersebut berada di antara sesama peserta asuransi yang tergabung di dalamnya. Perbedaan ini bukan didasarkan pada upaya ‘membedakan’ secara istilah saja supaya terkesan berbeda. Namun karena memiliki perbedaan mendasar dari sisi padangan, konsep, dan aturan syariat yang oleh karenanya akan berbeda pula dalam sebagian aspek operasionalnya.

Sebagaimana diketahui, bahwa Konsep risk sharing dihadirkan untuk mengeliminir adanya aspek gharar (ketidakjelasan), maysir (gambling), dan ribaGharar terjadi karena sifat dasar risiko yang belum pasti dan penuh ketidakjelasan, baik  dalam hal waktu terjadinya musibah, besar nya nilai kerugian, dan hal ketidakjelasan lainnya. Atas ketidakjelasan ini akan menimbulkan adanya spekulasi (gambling/maysir) dimana salah satu pihak akan diuntungkan dan pihak lainnya dirugikan. Sebagai contoh apabila terjadi klaim, maka nasabah akan diuntungkan, sementara perusahaan asuransi yang semula sudah mencatatkan sebagai pendapatan premi menjadi hilang/berkurang akibat harus membayar klaim tersebut. Sementara riba berpotensi terjadi dalam hal penggunaan instrumen investasi atas dana premi yang di investasikan bukan pada instrument berbasis Syariah.

Melalui penggunakan konsep risk sharing, maka kontribusi (sebutan premi di asuransi Syariah), bentuknya adalah hibah (dana kebajikan) yang diniatkan untuk membantu di antara para peserta yang mengalami kerugian. Bentuk ini lah yang dimaksud dengan risk sharing, dimana sesama peserta saling ‘menanggung’ di antara pada peserta lainnya apabila salah satu perserta mengalami musibah. Penerapan ini disebabkan karena karakter dasr risiko yang sifatnya belum pasti tadi  dan masih bersifat spekulasi, maka konsepnya tidak lagi membayar (membeli polis), tetapi kontribusi tersebut berupa hibah (bantuan dana kebajikan) yang dilakukan dalam akad tabarru atau akad yang sifatnya tidak mengandung unsur mencari keuntungan. Melalui hibah ini lah, maka gharar dan maysir menjadi tereliminir karena konteks dari hibah tersebut diberikan secara sukarela/ikhlas untuk membantu  sesama peserta tersebut kapanpun, dimanapun, dan berapapun sesuai dengan syarat dan ketentuan yang disepakati sesama anggota dalam kontrak polis.

Sementara perusahaan asuransi memperoleh imbal jasa (ujroh) atas jasa nya mengelola kontribusi milik peserta tersebut dalam hal menggunakan akad wakalah bil ujroh, atau bisa juga berupa bagi hasil dalam hal menggunakan akad mudharabah atau musyarakah dimana perusahaan asuransi bertindak sebagai pengelola investasi atas dana kontribusi (dan atau dana saving jika ada) milik para peserta.

About the author

Najwa

View all posts