Masih Terasa Hingga Kini….

Masih Terasa Hingga Kini….

Membaca kenangan tentang masa lalu seperti merangkai mutiara menjadi kalung nan indah. Ada warna hidup yang berbeda di tiap butirnya. Kadang kita menimangnya, mendekapnya erat dan mengenakannya sambil berbisik, “Inilah aku sekarang menjadi, dari untaian butir perjalanan hidup yang dikemas-Nya.” Dan butir itu akan terus bertambah, terus… hingga pupus di takdir-Nya.
Sebutir mutiara itu bernama ukhuwah. Yang kami bangun bersama teman-teman Syiar Kegiatan Islam Fakultas Sastra UNS kala itu. Sekira lima belas tahun yang lalu….
*****

Sinar matahari belum begitu menyengat ketika saya melangkahkan kaki memasuki lapangan upacara. Dengan seragam putih-putih dan jilbab yang juga putih, membuat saya seperti perawat di sebuah rumah sakit. Hanya jaket almamater biru muda yang berbahan tak ‘ramah’ kulit ini yang menunjukkan bahwa aku mahasiswa baru.
“Saya sekarang mahasiswa!” bisik saya gembira, kemudian berjalan gagah menuju kampus UNS yang tak jauh dari kost. Saya seolah ingin berteriak dan menyapa setiap orang yang saya jumpai.
“Hei! Aku sekarang sudah mahasiswa!”
Namun begitu lapangan upacara telah ada di depan mata dan melihat ribuan orang yang berseragam sama seperti saya, menyusut sudah kebanggaan yang akhir-akhir ini menghinggapi hati saya karena berhasil menembus perguruan tinggi negeri. Rasa minder itu kian bertambah kala barisan fakultas mulai dirapikan. Saat menoleh kiri dan kanan, papan nama fakultas yang berada di depan menerbitkan kagum saya pada orang-orang yang berbaris di belakangnya; calon-calon dokter, sarjana sains, teknik, ekonomi, pendidikan, hukum, sosial, dan… sastra. Ya, papan yang terakhir itu berada persis di depan saya. Duh, sastra! Kamu hanya fakultas sastra, Ry!
Lalu wajah-wajah di sekitar saya menjelma cerdas, dewasa, dan seolah jauh lebih tua dari saya. Postur tubuh mungil saya semakin meyakinkan, saya masih anak kecil.
“Hei, assalamu’alaykum!” sentuhan tangan seseorang dari belakang membuat saya menoleh. Seorang gadis manis berkaca mata tersenyum ke arah saya, tangannya terulur. Saya menjawab salamnya dan menyambutnya tersenyum.
“Fia .” jawabnya begitu saya menyebut nama. Jilbab lebarnya sedikit berkibar tertiup angin.
“Asal dari mana?” tanya saya kemudian karena komandan upacara masih belum menampakkan tanda-tanda upacara akan dimulai. Saya membalikkan badan tepat menghadapnya. Barisan di sekitar saya pun nampak belum rapi.
“Semarang.” Jawabnya “Kosku di belakang kampus. Kamu?” senyumnya mengembang.
Saya pun menjawab singkat, masih asing dengan suasana baru di sekitar saya. Obrolan singkat kami sedikit melegakan, saya tidak sendiri, ada Fia yang masuk jurusan sama dengan saya melalui jalur PMDK dari sebuah SMU negeri di Solo. Keluarganya baru saja pindah ke Semarang mengikuti dinas ayahnya sehingga dia harus kos.
Percakapan kami kemudian terhenti ketika suara lantang pemimpin upacara menyuruh seluruh pasukannya untuk bersiap. Matahari mulai meninggi dengan sinarnya yang lebih menyengat, tak lagi hangat.
Sejak saat itu saya dan Fia menjadi sejoli yang manis. Kesamaan pikiran, cara pandang dan idealisme membuat kami selalu merasa cocok. Di kelas pun kami lebih sering duduk berdekatan di depan. Memperhatikan dosen yang menjelaskan mata kuliah yang kadang kami masih sulit memahaminya. Ke perpustakaan, mengerjakan tugas, dan pernik pernik kuliah selalu kami kerjakan berdua.
Di semester dua, saya dan Fia bergabung dalam barisan dakwah di fakultas sastra melalui Syiar Kegiatan Islam. Meski beda bidang, kami bisa memahami bahwa inilah amal jama’i.
“Fastabikhul khoirat ya, Ukh!” ucapnya.
Saya mengiyakan mantap. Sejak itu kesibukan kami bertambah, Fia dengan bidang Nisaa’nya yang mengurusi akhwat, sedang saya di pembinaan yang menangani kaderisasi. Subhanallah, justru ketika kami bertemu saat kuliah, rasa rindu dan cinta itu semakin terasa. Di waktu-waktu luang saat menunggu dosen datang kami menyempatkan diri untuk saling me-murajaah. Dan saya kemudian akan bersungut-sungut kesal karena hafalannya selalu lebih banyak dari saya.
Keakraban saya dan Fia yang seperti gula dan semut itu, mengundang seorang senior ikhwan kami angkat bicara. Di balik hijab kami berdua ditausiyahi bahwa dakwah butuh sosialisasi, bukan mengeksklusifkan diri. Dakwah harus membaur tanpa harus lebur, jangan membuat komunitas sendiri yang justru akan membuat orang-orang awam menjauhi.
Saya dan Fia saling pandang. Sedikit kepahaman kami tentang dakwah coba kami rangkai. Mungkin dengan penampilan kami yang sudah berjilbab rapi, orang salah mempersepsi. Sampai akhirnya ketika senior itu kuliah bersama kami untuk me-make up nilainya, saya dan Fia sepakat untuk tidak duduk berdekatan. Tapi dasar bandel, pada kuliah-kuliah tertentu kami masih saja berdua.
Maha Besar Allah, yang telah mengaruniakan rasa sayang di antara hamba-Nya. Ukhuwah Islamiyah itu begitu saya rasakan dengan nasihat-nasihat lembut yang saling menguatkan. Fia menjadi sosok yang begitu berarti ketika saya lelah menapaki jalan dakwah ini. Bersamanya dan akhwat-akhwat lainnya saya selalu dikuatkan, berusaha meyakini dan memahami bahwa surga Allah memang tidak mudah diraih. Hanya untuk orang-orang yang mau berjuang.
Hingga akhirnya suatu hari, di penghujung semester lima kuliah kami, Fia membuat saya tergugu tak berdaya. Dia menghancurkan idealisme yang selama ini kami bangun bersama. Idealisme tentang sebuah pernikahan, tentang belahan jiwa, tentang sepasang sayap!
Fia akan menikah!
Harusnya saya bahagia, tapi….
Mendadak diskusi-diskusi saya bersama Fia dulu tentang pernikahan kembali hadir. Lulus kuliah, kerja, dapat ikhwan dengan proses bersih, jadi ummahat … betapa menggembirakan. Membangun peradaban besar, dimulai dengan membangun keluarga yang kokoh. Dan keluarga itu akan terwujud bersama sosok yang mendukung, menopang, sevisi dan memahami dakwah ini.
Mengapa laki-laki yang hadir untuk Fia tidak seperti yang kami idealkan?
“Secepat ini, Fi?” saya masih saja tak percaya. Fia terdiam sesaat. Matanya mengabut. Saya menunggu kejujurannya dengan menggenggam tangannya erat.
“Tidakkah Rasul menganjurkan untuk menerima lamaran laki-laki shaleh yang datang kepada kita?” suaranya melemah.
Shaleh? Sedang sebelumnya Fia telah menceritakan kalau laki-laki itu bukan ikhwan sefikrah, tidak berharokah, bahkan… perokok! Dia calon pemimpin rumah tangga yang kepadanyalah Fia harus taat dan patuh. Meski gelar sarjana agama menghiasi namanya, belum ada jaminan dari siapapun tentang akhlaqnya selain ayah Fia yang memang sudah mengenalnya lama. Pun ketika Fia sekeluarga sering pindah rumah karena dinas ayahnya. Laki-laki itu tak memutuskan silaturahminya. Dia sejak dulu memang menginginkan Fia menjadi pendampingnya.
Kemana idealisme Fia yang menginginkan ikhwan sejati, yang bacaan Qur’annya bagus, yang hafalannya banyak, yang akhlaqnya mulia, yang… ah, protes saya hanya sampai di kerongkongan. Saya tak tega melihat wajah sendunya.
“Dua kali saya menolaknya dengan alasan ingin lulus kuliah dulu. Ingin mewujudkan seperti apa yang kita cita-citakan dulu, Ry!”
Saya tatap matanya dalam. Sungguh! Dalam bayangan saya, Fia sangat pantas untuk mendapatkan ikhwan ‘papan atas’.
“Tapi yang ketiga kalinya dia meminta langsung pada ayah. Dan saya menerimanya, Ry!”
“Kenapa?”
“Pertimbangannya tidak sekadar seperti yang kita kira, Ry. Ayah dan ibu memberikan sesuatu yang membuat mata dan telinga saya terbuka. Pertimbangan yang realistis, Ry!”
Fia menyentuh kedua pipi saya. Seperti yang biasa dilakukannya ketika saya mulai merajuk.
“Dia hanif. Ayah dan ibu telah mengenalnya lama.”
Saya menahan nafas. Sudah berubahkah cara berpikir Fia?
“Orang tua mana yang akan menyengsarakan anaknya, Ry? Bukankah ridho Allah ada pada kedua orang tua?”
Sejenak kami saling diam. Kemudian Fia mengalirkan cerita Ummu Sulaim yang saya pun telah hafal di luar kepala. Sosok muslimah yang menolak lamaran Abu Thalhah sebelum dia bersyahadat.
“Cukuplah keislamanmu sebagai maharnya!” kalimat Ummu Sulaim yang sangat memukau. Dan Abu Thalhah menerimanya. Keduanya kemudian mewujudkan keluarga sakinah yang fenomenal sepanjang sejarah.
“Tapi mimpi kita dulu….”
“Tidak Ry! Saya tidak menyalahkan idealisme kita selama ini. Bahkan saya akan bahagia jika kamu bisa mewujudkannya. Saya menerima dia karena ibu saya bilang, ‘Fia, ibu bahagia jika kamu dapat ikhwan seperti yang kamu inginkan itu, yang sama-sama ngaji. Mulia! Kamu hidup mulia, Nduk! Tapi kamu akan lebih mulia lagi jika kamu bisa membuat dia ikut ngaji bersamamu. Bisa menjadikannya ikhwan seperti keinginanmu’. Kalimat ibu itu begitu membekas di hati saya, Ry. Hingga sholat-sholat istikharoh yang saya tunaikan tidak menyisakan apapun selain kemantapan.”
Air mata saya terburai, entah untuk apa. Daya pikir saya tak pernah menjangkau sejauh itu. Selama ini saya hanya tersekat pada bilik sempit yang ternyata belum bisa mendewasakan. Saya masih terkungkung pada batasan-batasan yang terlalu berlebihan.
“Dia hanif, Ry. Doakan saya bisa jadi mulia seperti yang ibu katakan. Allah akan memberikan yang terbaik kan buat kita?”
Jika laju kereta api itu masih tetap dalam relnya, lalu atas dasar apa saya menghentikannya. Saya peluk Fia erat. Saya yakin Fia bisa. Dengan segala kelembutan dan ketegarannya dia akan menjelma menjadi Ummu Sulaim baru.
Beberapa tahun kemudian ketika dia mengabarkan kelahiran anak ketiganya, tak lupa saya sisipkan lagi pertanyaan tentang suaminya—saya selalu bertanya itu jika dia menelpon. Dan kali ini jawaban Fia membuat saya tersenyum lebar, benar sudah dugaan saya dulu bahwa Fia pasti bisa mengubah suaminya. Bukan menafikan peran Allah (kalau itu pasti saya yakini sepenuhnya), tapi sosoknya yang sabar itu pasti sangat berperan, baik mendoakannya maupun tindakan nyata memperbaikinya. Ah, Fia…
Pada kisah itulah kemudian saya belajar tentang keikhlasan dan kebesaran jiwa.
*****

“Ibu sudah tidak bisa memberi kamu uang, Nduk!” lirih ibunya berucap, mengelus kepala anak pertamanya yang begitu ngototnya ingin kuliah dulu. Kuliah dalam keterbatasan dana tapi tidak pada semangat. Karena bersama saya, dia masih bisa aktif di Syiar Kegiatan Islam, arena dakwah kami di Fakultas Sastra UNS.
Dia mengerjap, menatap mata tulus ibunya. Mata yang semakin sayu karena usia dan beban jiwa yang semakin bertambah. Dua tahun sebelumnya, gadis kecil itu kehilangan ayah tercinta. Saat kuliah membutuhkan biaya lebih karena tugas dan diktat yang musti dimiliki. Atau sekadar menambah porsi makan dengan gizi yang berlebih karena tubuh membutuhkannya. Sang tulang punggung keluarga harus menghadap-Nya.
“Biaya untuk dua adikmu saja ibu nggak tahu harus bagaimana.”
Getir.
Diusapnya air mata yang menitik di sudut matanya. Egois namanya kalau dia masih menuntut ibunya untuk memberikan sesuatu yang beliau tak punya.
Tapi kuliah adalah ibadah menurutnya, yang harus tetap dijalani meski apapun yang terjadi. Bukankah Rasul menyuruh umatnya untuk menuntut ilmu dari ayunan bunda sampai liang lahat?
Itulah yang kemudian membuat gadis kecil itu tetap tegar menjalani hidupnya dengan biaya kuliah sendiri. Menjadi juru ketik di sebuah rental pengetikan akhwat yang sekaligus kosnya. Di sela-sela waktu kuliahnya dia masih sempat berbisnis kecil-kecilan, melihat peluang kira-kira apa yang dibutuhkan anak kost. Pun demikian, binaannya tak pernah terlantar. Terkadang bersama saya dia curhatkan resahnya. Saya tak punya apa-apa selain telinga untuk mendengarkannya.
Gadis kecil itu begitu tegar saat ibunda tercinta harus keluar masuk rumah sakit dengan biaya yang sangat besar. Gagal ginjal, komplikasi atau entah apalagi nama penyakitnya, yang jelas harus tersedia uang yang cukup besar untuk meyembuhkannya. Pernah dalam satu malam dia harus mendapatkan uang sekian juta untuk biaya cuci darah ibunya.
“Harus malam ini! Karena kalau tidak ada, kami tak bisa melakukan apa-apa.” Ucapan dokter yang seakan tak mau tahu. Sadis.
Apakah nyawa seseorang memang tergantung pada uang?
Lalu dimanakah keadilan jika rumah sakit hanya dimiliki orang berduit?
Dengan sisa-sisa tenaganya dia menghubungi beberapa ikhwah yang bisa membantu. Tak ada tangis. Air mata telah habis.
Dan semua episode perjuangannya menyembuhkan sang ibu itu dia jalani sendiri, karena saudaranya yang lain telah lelah menemani dan membiayai.
“Tidak Ry, mereka bukan saudara saya. Kalianlah saudara saya sesungguhnya.” Ujarnya suatu ketika pada saya.
“Ssst.…” saya mencoba menenangkannya.
“Apa namanya saudara kalau tak mau tahu dengan urusan saya. Saya nggak minta uang mereka untuk biaya ibu. Sekadar datang dan menemani saya menunggui ibu di rumah sakit cukup membuat saya lega. Tapi jangankan datang, saat mengantar ibu ke rumah sakit mereka langsung pulang seolah-olah saya bukan keponakannya.”
Perih. Saya bisa merasakannya. Memori cerita tentang konflik keluarga besarnya sedikit saya tangkap. Perkara tanah warisan yang menjadi sengketa.
“Kalianlah saudara saya….”
Saya terdiam. Terkadang ikatan ukhuwah memang lebih erat dibanding ikatan darah. Seperti kaum Anshor yang rela memberikan apa saja pada saudaranya, kaum Muhajirin, karena Rasulullah telah mempersaudarakannya dengan Islam.
Saat ibunya memasuki rumah sakit, ikhwah tak pernah berhenti mencari dana untuk meringankan bebannya meski tak seberapa. Sampai akhirnya dokter angkat tangan dan mempersilahkan gadis malang itu membawa pulang ibunya. Pulang dengan segenap kepedihan karena tidak adanya kejelasan.
Hingga akhirnya, sang ibu pun berpulang. Dia masih sempat bertemu ibu, masih sempat melihat ekspresi ketakutannya menyambut malaikat maut, masih sempat mendengungkan tahlil di telinganya. Dan ketika ruh itu berpisah dari raga, dia luruh dalam tangis yang tak terbendung. Satu lagi orang yang dicintainya pergi meninggalkannya. Tinggal dua orang adiknya yang kini menjadi tanggung jawabnya. Allah, misteri apa lagikah yang akan Engkau tunjukkan pada hamba-Mu?
Saya dekap tubuhnya saat upacara pemakaman ibunya. Bukan saat yang tepat untuk menunjukkan perhatian dengan rentetan kalimat. Saya ada bersama kamu, Sahabat. Karena hanya ini yang saya punya untukmu.
Waktu terus berlalu dan saya selalu membersamainya. Kami tinggal satu atap sehingga memudahkan interaksi meski hanya sekedar berbagi. Malam-malam kami selalu berwarna kelabu. Trenyuh rasanya ketika mendengar cerita tentang dua adiknya yang seolah menjadi anaknya. Atau saat kebingungannya memenuhi uang SPP dan biaya hidup yang semakin menggila. Namun Allah memang Maha Rahman dan Rahiim, tiga buku yang ditulisnya di sela-sela kuliah dan aktivitas dakwahnya disetujui penerbit untuk dipublikasikan. Tulisannya juga kadang dimuat di media Islam, yang tentu saja honornya bisa digunakan untuk bertahan hidup. Selalu ada jalan bagi yang mau berusaha.
Ayun, sahabat saya tercinta, lulus S1 dengan predikat cumlaude dan menjadi wisudawati terbaik kala itu. Melanjutkan S2 tanpa beasiswa dan berhasil menyelesaikannya. Kini mengajar di UNNES Semarang masih dengan rentetan prestasinya. Saya masih ingat bisik-bisik kami di tengah malam dulu saat melabuhkan kepenatan jiwa. Yakinlah, lara itu tak kan selamanya mendera, ada saat dimana Allah menempa jiwa kita dan menghadiahi surga.
Pada kisah itulah kemudian saya belajar tentang kerja keras, tawakal dan keberhasilan.
*****

Tempat itu sebenarnya biasa, malah cenderung seadanya. Tapi entahlah… saya sangat menyukainya. Ruang kelas yang tak lebih dari sepuluh meter persegi, dibagi dua dengan hijab hijau yang tinggi. Unik, karena kami penghuninya berkomunikasi tanpa melihat, hanya berbekal suara-suara di seberang hijab yang lama-lama kami hafal. Semester pertama kuliah saya hanya menganggapnya tempat untuk numpang sholat, istirahat nunggu jam kuliah berikutnya, atau janjian dengan seseorang untuk curhat. Aih…
Namun, selanjutnya tempat itu menjadi sumber inspirasi saya yang tiada henti. Di sana pertama kali saya belajar menjadi panitia sebuah acara dan berlanjut hingga kepanitiaan acara-acara berikutnya. Ibarat magnit, tempat itu—beserta isinya—menarik saya untuk terlibat apapun kegiatannya.
“Apa Mbak, saya jadi sie perizinan?” tanya saya lugu pada kakak tingkat pengurus yang menjadi SC di acara perdana kami waktu itu.
“Iya, gak papa kan?” senyumnya merekah. Itu salah satu magnit yang lain bagi saya. Senior yang ramah dan akrab. Jilbab lebar mereka tak menghalangi saya untuk dekat dengan mereka. Bahkan, saya ikut-ikutan pe-de pakai gamis ke kampus.
“Sambil belajar” lanjutnya dan saya pun mengiyakan. Meskipun dalam benak saya tidak tergambar bagaimana mengurus perizinan acara di kampus.
Lalu menjadi sekretaris, sie acara, sie sponsorship, sie konsumsi dan sie-sie yang lain pernah saya coba dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan SKI. Belakangan ketika saya menjadi senior, tahulah saya bahwa pelibatan adik-adik mahasiswa baru dalam semua kegiatan adalah pengikat mereka untuk terlibat di SKI dan kemudian menjadi pengurusnya. Ah, terjebak saya! Tapi… terjebak yang indah 
Dari sanalah kemudian kuliah kehidupan itu sebenarnya bermula!
Saya lalu belajar tentang membagi waktu dan skala prioritas. Karena tidak hanya di pembinaan SKI, saya juga menjadi staf pembinaan JN UKMI UNS, pengurus HMJ Kemasindo (Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia) FSSR, membina beberapa kelompok halaqoh, dan juga mulai aktif di Forum Lingkar Pena Solo yang saat itu baru awal terbentuk. Semuanya butuh pemikiran tanpa meninggalkan tugas utama saya sebagai mahasiswa; kuliah. Ilmu membagi waktu dan berkontribusi untuk dakwah itulah yang tidak saya dapatkan dari ruang kelas. Saya mendapatkannya dari organisasi-organisasi itu.
Bahkan, hobi saya menulis pun difasilitasi SKI dengan diterbitkannya majalah Tazkia! Kami—beberapa pengurus—yang menjadi redaksinya. Belajar dari mulai memaknai diksi sekecil apapun, bagi-bagi nulis dan mengumpulkan naskah, urusan teknis cetak-mencetak, hingga ke pemasarannya. Sekarang saya membayangkan, hebat betul kami waktu itu bisa konsisten melahirkan majalah untuk beberapa edisi. Dan ilmu itu tidak saya dapatkan di ruang kelas saat mata kuliah penulisan kreatif, tapi dari SKI.
Lalu saat mempersiapkan pentas teater akhwat, membantu menulis naskah, menyiapkan properti, memilih karakter yang tepat hingga pementasannya. Saya banyak belajar dari situ. Sekali lagi, ilmu itu tidak saya dapatkan di ruang kelas dengan mata kuliah telaah drama, tapi dari SKI.
Dan yang paling penting adalah…. saya menemukan jatidiri di SKI. Tentang siapa saya sebagai hamba Allah, bagaimana saya seharusnya menjalani hidup, bagaimana saya mencintai Islam dan dakwah.
Maka, bagaimana mungkin saya tidak cinta SKI dan seluruh aktivitasnya? Setiap sudutnya adalah kenangan tentang ukhuwah. Pada kisah itulah kemudian saya belajar tentang kebersamaan, saling berbagi, dan ber-Islam sesungguhnya.
*****

Fakultas Sastra dan Seni Rupa, akhir tahun 2014
Saya melangkahkan kaki menyusuri lorong-lorong koridor kelas yang kini semakin rapi. Jauh berubah dari 15 tahun yang lalu. Ruang ujung timur sebelah selatan itupun telah menjadi kelas. Tak ada lagi sandal rapi berjajar, whiteboard bertuliskan pengumuman, buku yang tersusun di rak, hijab hijau yang membatasi ruang ikhwan akhwat dan segala lukisan kaligrafi di dindingnya. Tak ada….
Namun telinga saya masih mendengar ucapan salam dari balik hijab saat ikhwan mencari akhwat, ketika rapat dan diskusi, ketika ustadz mengisi kajian, ketika bisik-bisik curhat, dan…. suara lirih tilawah yang saling beradu. Rindu.
Yang nyata terdengar adalah detak sepatu saya menuju kelas, memenuhi kewajiban saya untuk berbagi ilmu. Ekor mata saya melirik masjid hijau yang sampingnya kini menjadi pengganti ruangan berhijab hijau itu. Denyutkan dakwah itu disana Rabb, seperti dulu saat kami mengawalinya, bahkan lebih lagi.
Tiba di kelas.
“Selamat siang, Bu….”
“Siang. Kali ini saya tidak akan mengisi kuliah ya…” ucap saya, langsung disambut gembira oleh wajah-wajah muda itu.
“Tapi… izinkan saya berbagi inspirasi. Lima belas tahun yang lalu…”
*****

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *