Hari-Hari yang Bertabur Mutiara

Hari-Hari yang Bertabur Mutiara

Mendampingi tumbuh kembang anak adalah hal yang paling menggembirakan bagi orang tua. Banyak keajaiban yang tiba-tiba muncul dari mulut si kecil, entah itu pertanyaan polos atas ketidaktahuannya atau komentar spontannya terhadap suatu hal. Selama mendampingi si kecil kami, Mutiara yang sekarang berusia 7 tahun, banyak ‘nasihat kehidupan’ yang kami dapatkan. Beberapa puzzle itu saya tuangkan di sini sebagai pengingat, bahwa kami pernah bersama dalam masa-masa emas tumbuh kembangnya.
Di usianya yang belum genap setahun, saya pernah mengajaknya melihat Yang Ti (ibu saya) membuat bakso dan keesokan harinya saat di rumah, dia meremas-remas kertas sambil ngoceh, “so… so… so…!”. Dia berkata sedang membuat bakso hehehe… peniru ulung!
Atau saat usia dua tahunan, segala hal yang dilihat ditirunya. Sampai-sampai jilbab kaos saya yang tergeletak pun dikenakannya dan bergaya seperti saya saat menasihatinya. Kertas-kertas bekas yang halaman sebaliknya masih bersih, saya kumpulkan dan digunakannya untuk berkreasi apapun. Tak hanya sobekan dan guntingan kertas, namun penuh dengan coretan tak berbentuk atau warna-warni yang merupakan hasil imajinasinya. Semakin banyak mainan berserakan, rumah yang tak rapi, atau segala perabot rumah tangga yang dijadikannya alat permainan.Saya berusaha untuk ‘cuek’ soal berantakan ini karena Mutiara sedang eksplorasi. Semuanya dalam rangka belajar.
Kepekaan sosialnya pernah teruji saat di warung makan ada pengunjung yang merokok. Dengan entengnya Mutiara berkata, “Merokok kan bikin sakit paru-paru ya, Bund?” dan saya pun tersentak kaget karena si perokok pasti mendengarnya. Hmmm… kepolosan anak yang harus diterima dengan kerendahan hati, bukan?
Kecerdasan linguistiknya pernah saya rasakan saat dialog sederhana antara kami bertiga. Ayah (suami saya) pulang bawa bebek goreng. Bunda (saya) pulang bawa ayam asam manis. Habis maghrib kami berkumpul di meja makan, tiba-tiba Mutiara bilang,
“Harusnya ayah makan ayam, bunda makan bebek,”
“Kenapa harus begitu, Kak?” tanya ayahnya.
Batin saya, mudeng banget nih anak biar ayah bundanya tukeran oleh-oleh.
Tapi tahukah apa jawabannya?
“Karena ayah huruf awalnya A, jadi makan ayam. Bunda huruf awalnya B, jadi makan bebek,” jawabnya lantang.
Appppaaaa? Cuma karena huruf?
Tak urung tertawa juga bertiga.
“Lha terus Tiara makan apa?” kejar ayahnya.
Tak sampai satu detik dia menjawab,
“Telur!”
Hal-hal kecil seperti itulah yang membuat saya bahagia. Sederhana tapi mampu memberikan kode bahwa Mutiara sedang bertumbuh. Tak hanya kecerdasan logika, matematika, ataupun bahasa yang saya amati, tapi juga kecerdasan spiritualnya. Saya selalu mengajaknya untuk shalat sejak dia belum paham apa itu shalat. Hal ini sangat membantu pemahamannya bahwa shalat selalu dilakukan bundanya dan dia pun dengan ringan melakukannya tanpa paksaan. Shalat lima waktunya sudah rutin—meski dengan gerakan seadanya dan jauh dari khusyuk—sejak usianya 6 tahun. Hal yang berkesan tentang shalat ini adalah saat dia melakukan shalat tahajud pertamanya.
Suatu sore Mutiara mengutak-atik jam wekernya, meletakkan jarumnya pada angka 4.
“Kok diubah, Kak?” tanya saya. Biasanya si weker berdering pukul 5.
“Aku mau bangun jam 4, Bun.”
“Kepagian lho, nanti masih ngantuk,” saya meragukan.
“Nggaaaak, aku mau latihan bangun pagi sekali. Kan sudah mau SD,” sanggahnya.
“Oh… ok, sekalian mau tahajud ya?” goda saya. Saya belum yakin apakah di sekolah sudah dikenalkan sholat tahajud untuk anak TK B usia 6,5 tahun itu. Kalau sholat dhuha sudah sering dilakukannya, bahkan bersama saya kalau pas libur sekolah.
Mutiara hanya mengangguk mantap saat saya jelaskan sholat tahajud itu rekaatnya seperti sholat dhuha.
Pagi harinya jam weker berdering pukul 4 dan Tiara menepati janjinya. Bangun lebih awal bahkan wudhu lebih awal dari saya yg masih mengantuk. Lalu tahajudlah kami bertiga. Saat sudah enam rekaat, Mutiara hendak menyudahinya. Ok baiklah, saya kemudian memeluknya dan menjelaskan tentang sholat witir yang ganjil sebagai penutup sholat malam. Dia mengangguk-angguk, tapi tak melakukannya. Ok, tak apa. Saya sangat menghargai apa yang sudah dilakukannya.
Beberapa saat kemudian azan subuh terdengar.
“Kak, tahu nggak orang yang paling kaya sedunia?”
“Siapa, Bund?”
“Orang yang melakukan sholat sunnah 2 rekaat sebelum subuh,”
“Kok bisa?”
“Karena dia mendapat pahala yang lebih besar dari dunia dan seisinya,” jawab saya.
“Kak Tiara mau?”
“Mauuuuu…”
Sip. Sementara ayah ke masjid, kami pun kembali larut dalam rekaat-rekaat cinta. Hati saya semakin basah saat doa yang dihafalnya terlantun lirih usai sholat. Dan… tambahan doa kreasinya yang selalu dia ucapkan sejak saya ajarkan setahun yang lalu.
“Ya Allah, berikanlah kami rezeki yang barokah.
Ya Allah, berikanlah kami adik shalih dan shalihah.
Ya Allah, sehatkanlah keluargaku.
Ya Allah, berikanlah kami kebaikan dunia dan akhirat. Aamiin.”
Terima kasih sayang, buncah di hati bunda ini tak tereja saat menatap wajah polosmu meminta kepada Sang Maha.
Benar kata orang zaman dulu, bahwa tiada yang lebih membahagiakan selain melihat anak-anak kita tumbuh sehat dan cerdas. Namun, kali ini saya harus menambahkan satu poin lagi. Shalihah. Tak hanya sehat dan cerdas, tapi juga shalihah alis taat pada Yang Maha Esa. Nilai-nilai ini yang kadang dianggap sepele orang tua saat mendidik anaknya dengan mengatakan, ‘ah, masih kecil ini, nggak apa-apalah,’ atau ‘ya maklumlah masih anak-anak,’ dan apalogi-apologi lain yang membuat mental anak tidak berkembang.
Tentang ini, bahkan saya pernah mengajak Mutiara i’tikaf di masjid kampus saat Ramadhan 1438 Hijriyah yang lalu. Saat pertama, agak ngambek karena tidak kebagian semangka ketika berbuka bersama. Tiba-tiba teman seusianya duduk di sebelahnya dan membaginya semangka. Tiaramenyambutnya sambil tersenyum cerah. Alhamdulillah dia belajar dari orang lain untuk berbagi.
Berikutnya dia belajar antre dengan peserta i’tikaf lainnya. Antre ambil makan. Antre ke kamar mandi. Bahkan antre wudhu karena saking banyaknya peserta. Alhamdulillah dia tetap ceria meski sesekali rewel ringan.
Saya mengira cukup semalam melatihnya i’tikaf di masjid, tapi ternyata saat pagi saya tanya apakah kasur lipatnya dibawa pulang? Dia menggeleng dan mengatakan masih mau bermalam lagi di masjid. Baiklah, Nak. I’tikaf pun lanjut. Saya tunjukkan orang-orang yang i’tikaf bersama kami itu dari banyak daerah, bermacam usia, tapi niatnya sama mencari pahala Allah.
Ada peristiwa-peristiwa unik yang terjadi di malam berikutnya. Saat antre ke kamar mandi sendiri tanpa saya, banyak mbak-mbak mahasiswa yang mendahulukannya. Dia menceritakannya pada saya. Alhamdulillah dia belajar berani. Saat capek tarawih dan ‘izin’ mau tidur duluan, saya mengangguk dan tetap tarawih sampai selesai. Alhamdulillah dia mandiri gosok gigi dan tidur sendiri tanpa harus saya bacakan dongeng seperti saat di rumah.
Malam kelima berlalu sudah. Pagi harinya kami berkemas karena kami akan mudik. Mutiara tetap ceria dan mengatakan Ramadhan berikutnya dia akan i’tikaf lagi. Pengalamannya tidur bersama dengan banyak orang di lantai masjid, pasti memberi kesan yang meski tak diungkapkannya, suatu saat akan membekas kebaikan. Belajar berbagi dan tentang ukhuwah Islamiyah. Bahwa di mata Allah, semua manusia itu sama, hanya ketakwaanlah yang membedakannya.
Membentuk pola pikir seperti itu pada anak memang tidak mudah. Semuanya harus berproses. Setiap peristiwa yang dialami, bisa menjadi sarana pembelajaran untuk anak. Saya dan suami melakukannya tanpa sengaja, dan tiba-tiba menemukan kesadaran bahwa kami secara tidak langsung meng-kontruksi pemikirannya. Inilah mungkin yang dinamakan pewarisan nilai-nilai atau ideologi. Peristiwa berikut mungkin sebagiannya adalah konstruksi pemikiran yang tidak sengaja kami lakukan, tapi telah melekat dalam diri Mutiara.
Suatu malam Mutiara minta dibelikan ayam P***ye, merayu ayahnya.
“Ayolah yaaah… ayah kan laki-laki,” katanya.
“Emang kenapa kalau laki-laki?” tanya saya.
“Ya kan lebih kuat, malam-malam begini masih bisa keluar, kalau perempuan kan nggak boleh,” jawabnya.
“Kok bisa? Tahu dari mana?” tanya saya menguji.
“Dari ide,”
“Ide itu apa?” kejar saya lagi
“Hmmmm apa ya? Ide itu pikiran. Pikiran itu dari otak.”
Ok Nak, satu point konstruk ayah bunda sudah masuk, perempuan tak boleh keluar malam tanpa didampingi. Kelak kalau dia sudah cukup umur, bunda akan jelaskan lebih bahwa ini bukan hanya soal perempuan. Bukan karena laki-laki kuat.
Lalu di suatu pagi.
Mutiara tidak segera bergegas mandi dan sarapan, malah pegang hp ayahnya dan membuka aplikasi mewarnai. Bunda mulai menaikkan intonasi suaranya.
“Kenapa bunda teriak?”
“Karena kak Tiara tidak mendengarkan bunda,”
“Bunda nggak sayang ya sama aku?”
“Sayang dong… justru karena sayang bunda minta kak Tiara segera mandi dan berangkat ke sekolah,” jawab saya sambil tetap beraktivitas mempersiapkan ini itu. Pagi itu saya akan mengajar jam pertama.
Ayahnya menambahi, “kalau nge-game terus nanti dihapus ya gamenya,”
Wajah Tiara mulai merengut, “Iya, hapus aja! Ayah bunda nggak sayang sama aku,” mulai menangis kecil.
“Sayang kok… tapi kak Tiara harus nurut…”
“Nggggaaaak, aku nggak mau nurut ayah bunda,” tangisnya sudah pecah.
“Lha terus mau nurut sama siapa?” tanya saya.
“Nurut sama Al Qur’an ajaaa….”dia menjawab sambil berurai air mata.
Saya menahan tawa. Antara jengkel karena dia ngambek dan haru karena jawabannya di luar dugaan.
“Emang kak Tiara sudah bisa membaca al Qur’an tanpa bantuan ayah bunda?” Saya pun memeluknya.
“Bisaaa… nanti kalau belajar terus juga bisa,”
Ok Nak, satu poin lagi meski itu hanya ucapan sederhana, kau sdh bisa melarikan masalahmu ke Al Qur’an. Bahwa segala solusi itu ada dalam Al Qur’an dan itu diketahui anak usia 6 tahun. Desis-desis doa itu saya perkuat, hidupkan selalu cahaya kebenaran itu di hatinya, jagalah selalu fitrah kebaikan itu, Ya Allah.
Tak mudah memang menjadi orang tua yang bervisi. Namun bukan berarti itu tak bisa. Banyak sudah contoh dari keluarga-keluarga hebat yang anak-anaknya menjadi hebat pula karena pola asuh yang tepat. Peran orang tua sangat penting, membentuk karakter dan pribadi sang anak. Maka menjadi orang tua pembelajar itu adalah sebuah kemestian.
Ayah Bunda, mari terus berproses bersama ananda sambil terus melangitkan doa-doa terbaik kita. Tak ada yang kita harapkan saat kita sudah berada di akhirat, selain doa-doa dari anak shalih-shalihah yang terus mengalir. Investasi akhirat itu harus benar-benar kita perjuangkan sebagai amal kebaikan.

Surakarta, 15 November 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *