Menjadi Ibu (Paham) Digital

Menjadi Ibu (Paham) Digital

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (Terjemah QS. Annisa: 9)

Kekhawatiran setiap orang tua terhadap anaknya jika kelak ditinggalkan adalah kesiapannya menghadapi kehidupan. Alquran pun menegaskannya dalam ayat tersebut. Jangan meninggalkan generasi yang lemah. Lemah ini bisa berarti dalam banyak hal seperti lemah iman, finansial, eksistensi diri, dan keterampilan hidup lainnya.
Di era siber seperti saat ini, tantangan terhadap itu semua semakin berat. Anak-anak di luar rumah dihadapkan dengan banyak pilihan kehidupan lewat gawai (gadget) di tangannya. Ini menjadi tambahan tugas orang tua, utamanya ibu, untuk mengarahkannya.
Indah sekali membayangkan, anak-anak yang haus informasi dunia, mendapatkan jawabannya dari seorang ibu yang sedang mendekapnya. Anak-anak yang penasaran dengan sesuatu di luar sana, mendapatkan wawasan dari ibu yang menjawabnya dengan tatap mata cinta dan bijaksana. Anak-anak yang sigap dengan perkembangan ilmu pengetahuan, didampingi ibu yang telaten menjelaskan.
Namun, untuk menjadi ibu yang ideal seperti itu bukanlah hal yang sederhana. Forum-forum parenting banyak diadakan, buku-buku parenting bisa dengan mudah kita dapatkan, tapi menjadi ibu yang memahami kebutuhan tembang kembang anak membutuhkan proses yang berkelanjutan. Beberapa hal yang penting dalam proses ini diantaranya berikut ini.
Butuh energi ekstra dan memanfaatkan benda sekitar
Dengan alasan capek dan ingin beristirahat, banyak ibu membiarkan anak-anak bermain gawai tanpa pengawasan. Mereka menyerah pada keadaan. Di sebagian ibu bekerja, asisten rumah tangga menjadi harapan pengasuhan. Memang butuh energi ektra untuk mendampingi anak-anak berkembang. Kreatiflah menggunakan benda sekitar untuk pembelajaran. Kertas-kertas bekas, alat-alat rumah tangga yang kecil dan terjangkau, peristwa-peristiwa yang terjadi pun bisa menjadi pembelajaran, memenuhi kebutuhan otak anak-anak. Capek memang, tapi ingatlah Bu, waktu untuk seperti itu hanya sebentar. Kelak saat mereka sudah tumbuh mandiri, kita akan merindukan masa-masa mereka merengek dan membutuhkan kita.
Tidak semua teori parenting bisa diterapkan
Saat mengikuti seminar atau membaca buku parenting, kadang kita menemukan hal-hal baru yang dirasa menarik untuk diterapkan. Namun tidak semuanya bisa dipakai untuk anak-anak yang berbeda karakternya. Ibu harus mengenali dulu potensi anaknya sehingga tepat menerapkan teori parenting yang sudah didapatkan.
Ada delapan kecerdasan menurut Gardner yang dimiliki setiap insan, termasuk anak-anak yang sedang tumbuh kembang. Ibu yang membesarkan anak-anaknya, setidaknya mengetahui kecerdasan apa yang dimiliki sang anak secara dominan sehingga tahu cara pembelajaran yang tepat. Misalnya, anak yang dominan audionya, bisa diberi nasihat yang panjang lebar. Namun, anak yang dominan visualnya cukup diberi contoh tanpa ceramah.
Upgrade kapasitas digital untuk imbangi anak
Ini yang penting untuk ibu-ibu saat ini, ugrade kapasitas digital. Coba kita bandingkan, saat memegang hp baru, ibu dan anak akan berbeda mempelajarinya. Si anak akan lebih mudah memahami cara kerja hp tersebut sedangkan sang ibu mungkin masih gagap mengoperasikannya. Ini karena si anak berani latihan dan tidak takut gagal, sedangkan ibu justru berpikir takut hp-nya rusak. Cara belajar yang seperti ini membuat ibu sering tertinggal dalam urusan per-gadget-an. Dalam perkembangannya, anak-anak yang sering kreatif mencoba-coba dan senang tantangan ini, jauh lebih banyak memahami dunia digital dibanding ibu. Akibatnya, anak-anak jadi tidak bisa terkontrol karena orang tua yang memang tidak memahaminya.
Oleh karena itu, menjadi ibu digital sangatlah penting. Bukan untuk gaya-gayaan dan sekadar mengikuti perkembangan zaman, tapi lebih pada semangat untuk mendampingi dan mengontrol anak. Agar orang tua ‘tidak dibohongi’ anak untuk urusan digital dan internet yang sudah sedemikian rupa perkembangannya. Mari Ibu, kita terus belajar!
Kuatkan dengan doa
Yang paling penting dari itu semua adalah kekuatan doa. Ikatan ruhiyah antara orang tua dengan Ilahi dalam mendidik anak, menjadi ‘tenaga dalam’ di luar dugaan. Banyak kisah orang tua sederhana yang tak berteori parenting apapun, tapi mampu mendidik anak-anaknya menjadi hebat. Tak sekadar hebat yang kita inginkan sekarang, tapi anak-anak yang shalih-shalihah dengan kecerdasan yang bermanfaat untuk umat. Maka orang tua harus membangun hubungan ruhiyah yang baik dengan yang Maha Menciptakan Anak dan Membolak-balikkan hatinya.
Bukankah hanya doa anak shalih-shalihah yang kita inginkan kelak saat kita tak bisa berbuat apa-apa? Maka itu yang kita targetkan sekarang; doa sepanjang mendampingi tumbuh-kembangnya.
Wallahu a’lam bishshowwab.

*Artikel dimuat di Majalah Hadila Desember 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *