Nilai Budaya Jawa dalam Novel Nun, Pada Sebuah Cermin Karya Afifah Afra

Nilai Budaya Jawa dalam Novel Nun, Pada Sebuah Cermin Karya Afifah Afra

Pendahuluan

Masyarakat Jawa dengan segala aktivitasnya tidak bisa lepas dari kebudayaan. Bagi masyarakat Jawa, kebudayaan adalah nafas kehidupan. Hal ini dapat dilihat dari universalitas hidup masyarakat Jawa itu sendiri yang menjunjung tinggi kebudayaannya dalam segala aspek kehidupan. Peran penting ini yang menyebabkan kebudayaan Jawa diwariskan dari generasi ke generasi yang akan datang.

Kebudayaan masyarakat Jawa memiliki sifat khas, yaitu nrima. Nrima dalam tradisi Jawa merupakan keterbukaan atau sifat mudah menerima segala sesuatu yang dianggap baik untuk membaur dalam kehidupan. Dari sifat inilah terjadi pergesaran kebudayaan Jawa melalui proses akulturasi. Uniknya, masyarakat Jawa selain mudah menyerap kebudayaan luar, juga masih mempertahankan kebudayaan aslinya.

Kesusastraan merupakan suatu sistem produksi yang terintegrasi dengan perkembangan sistem yang lain seperti sistem sosial, teknologi, ekonomi, politik, dan budaya masyarakat. Sebagai suatu sistem yang terintegrasi, keberadaan karya sastra tidak dapat dilepaskan dari konteks kehadirannya. Karya sastra, dalam hal ini novel, hadir sesuai dengan konteks zamannya.

Novel sebagai hasil cipta kreasi manusia bisa menggambarkan kondisi sosial budaya. Novel dengan latar budaya Jawa telah banyak ditulis dan diteliti oleh pakar sastra, misalnya Pasar (1971) karya Kuntowijoyo, Pengakuan Pariyem (1981) karya Linus Suryadi A.G, Burung-Burung Manyar (1981) karya Y.B. Mangunwijaya, Para Priyayi (1992) dan Jalan Menikung (1999) karya Umar Kayam, dan Mantra Pejinak Ular (2000) karya Kuntowijoyo. Novel-novel tersebut termasuk karya besar para penulis dengan latar budaya Jawa yang sangat terasa. Artikel yang mengulas budaya jawa dalam karya penulis-penulis besar tersebut sudah banyak dilakukan.

Novel Nun Pada Sebuah Cermin (selanjutnya disingkat NPSC) merupakan novel berlatar budaya Jawa yang ditulis oleh Afifah Afra seorang keturunan Jawa dan tinggal di Surakarta. Afifah Afra merupakan penulis Indonesia yang aktif sejak 1999. Hingga saat ini, karyanya berjumlah lebih dari 50 judul buku, baik berupa novel, kumpulan cerpen, fiksi, hingga karya no-fiksi. Beberapa penghargaan di bidang literasi pun pernah dimenangkannya, antara lain Penulis Terpuji Anugerah Pena 2013 dari Forum Lingkar Pena, Juara 2 Lomba Menulis Cerpen Remaja Rohto-Raya Kultura 2011, dan Anugerah Prasidatama 2014 Kategori Tokoh Sastra Indonesia dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah.

 

Sekilas Nun Pada Sebuah Cermin

Novel NPSC karya Afifah Afra diterbitkan pada tahun 2015 oleh Penerbit Republika dengan ketebalan 370 halaman. Nun adalah gadis kecil yatim yang tinggal bersama ibu dan adiknya di rumah petak sempit di pemukiman liar bantaran sungai Kalianyar depan terminal Tirtonadi Surakarta. Ketika lulus SMP dengan nilai ujian cemerlang, Nun harus menerima kenyataan bahwa ibunya yang menjadi pemulung tak sanggup membiayai sekolahnya, bahkan menuntut Nun untuk membantu membiayai hidup mereka bersama kedua adiknya. Nun akhirnya mengais nafkah sebagai pemain ketoprak di sebuah grup Ketoprak Chandra Poernama berusia 80 tahun yang sudah nyaris gulung tikar. Grup itu pernah berjaya dan meraih masa keemasan, namun perubahan kultur masyarakat yang lebih menyukai hiburan semacam sinetron, telah membuat ketoprak tak lagi menjadi tayangan yang dinantikan. Walhasil, grup itu pun nyaris mati suri.

Meski hanya ditonton beberapa gelintir penonton, Nun selalu total berakting, meladeni lawan mainnya, Wiratno Sri Kameswara yang 15 tahun lebih tua. Wiratno, lelaki yang matang dan dewasa, bintang panggung yang dipuja-puja, namun ternyata juga memiliki kisah hidup yang getir, antara lain ditinggal istrinya pergi menjadi TKW di tanah Arab. Wiratno yang sering membius penonton dalam akting sebagai kesatria Jawa yang tampan, bijak perkasa, memang mampu menampilkan karisma dalam keseharian. Tetapi, itu bukan berarti kemiskinan hilang darinya. Meski berbalut kepapaan, aura ksatria Wiratno tak luruh. Dia tetap seorang pahlawan di alam nyata bagi Nun. Berkali-kali, pertolongan pemuda itu telah membuat Nun terlepas dari kesulitan. Cinta sejati pun pernah terlantun dari jiwa Nun kepada Wiratno. Sayang, lelaki itu merasa terlalu tua untuk memperdulikan remaja yang baru beranjak mekar seperti Nun.

Tak disangka, di gedung ketoprak yang nyaris ambruk itu, Nun bertemu dengan Naya. Pemuda intelek, putra seorang pengusaha terkaya di kotanya, fotografer dan jurnalis andal, yang jatuh cinta padanya. Naya yang elegan, berhati lembut dan mencintai budaya, sangat berminat meliput grup ketoprak yang sangat bersejarah itu. Sepulang dari studi di Australia, Naya mendapati Tribun Bengawan, koran milik ayahnya, sebagai salah satu perusahaan yang akan dijual karena terus menerus merugi. Naya pun menerima tantangan ayahnya untuk membangkitkan koran itu dari ancaman kebangkrutan dengan menjadikan liputan tentang kebudayaan Solo menjadi andalannya.

Naya pun akhirnya memasuki pusaran kehidupan Nun dan lingkungannya di pemukiman liar bantaran Kalianyar dekat Terminal Tirtonadi, dengan berbagai dinamika kehidupan sosial masyarakat miskin pinggiran. Mereka mengeja bersama narasi Ibunda Nun yang merasa bahwa hidupnya telah sama sekali hancur, narasi seorang pelacur jalanan bernama Petty, narasi lelaki yang mengaku sebagai “ustaz” Jagad Prabangsa yang membuka jasa menikahkan pasangan-pasangan secara siri, hingga narasi Denmas Daruno, yang menjadikan grup ketoprak Chandra Poernama sebagai kendaraan politiknya menjadi calon wakil walikota.

Rangkaian kisah Nun sebagai pemain ketoprak Surakarta dan pernak-pernik di sekitarnya yang dibalut budaya Jawa menarik untuk dianalisis lebih dalam, utamanya nilai budaya Jawa yang ada dalam novel tersebut.

 

Konstruksi Cerita NPSC

Konstruksi cerita novel NPSC ini dibuat dalam 28 bab dan dalam beberapa bab penulisnya mengawalinya dengan teks Macapat. Macapat adalah salah satu jenis tembang Jawa yang memiliki aturan tertentu dalam kalimat (guru gatra), suku kata (guru wilangan), dan bunyi sajak akhir (guru lagu). Macapat selain bisa dilagukan, isinya adalah puisi yang berisi tentang tuntunan hidup untuk manusia. Puisi-puisi yang ditulis oleh Paku Buwono IV dalam serat Wulangreh, Mangkunegara IV dalam serat Wedhatama, dan sebagainya yang banyak digunakan dalam novel NPSC ini, bisa dilagukan dengan Macapat.

Tembang Macapat ada 11 jenis, yaitu Mijil (keluar—melambangkan lahirnya seseorang dari perut sang ibu), Sinom (asma enom, atau masa muda),  Maskumambang (mas (emas) yang kumambang, yakni masa menjelang dewasa), Asmaradhana (asmara dan dana, masa-masa jatuh cinta), Dhandhanggula (manisnya kehidupan), Kinanthi (bergandengan, bisa juga harapan), Gambuh (keharmonisan), Pangkur (ngepangke pikir, masa-masa ketika pikiran mulai bercabang-cabang/ruwet), Durma (mundur dari kesenangan duniawi), Pocung (dibungkus kain putih/kafan) dan Megatruh (megat ruh, proses terpisahnya ruh dengan jiwa).

Urutan ke-11 lagu itu merupakan proses perjalanan manusia dari lahir hingga meninggal, tetapi ada juga yang menyebutkan proses manusia dalam mencari Tuhannya. Sebagian besar versi menyebutkan proses perjalanan manusia itu dimulai dari Mijil, ada pula yang dimulai dari Maskumambang (masa ruh mulai ditiupkan ke janin manusia). Adapun akhirnya, ada versi yang menyebutkan Pocung (saat dibungkus kafan), ada yang Pocung ditempatkan sebelum Megatruh, namun menurut Dr. Damarjati Supajar, tiga fase terakhir adalah Pocung, Megatruh dan ditutup dengan Kinanthi, yang artinya harapan akan mendapatkan balasan atas apa yang diperbuatnya di dunia.

Dalam novel ini, 11 jenis tembang Macapat digunakan sebagai salah satu penanda alur cerita, meski tidak bisa semua dimaknai secara denotatif. Ada yang hanya merupakan simbol dari kelit-kelindan alur yang dibangun tokoh-tokoh novel ini. Adapun versi yang diambil adalah milik Dr. Damarjati Supajar, karena kehidupan manusia memang tidak berakhir pada Megatruh atau Pocung.

 

Nilai Budaya Jawa dalam NPSC

Nilai budaya Jawa dalam NPSC menyebar dalam setiap rangkaian cerita. Karena struktur ceritanya menggunakan 11 tembang Macapat, maka penulis akan menguraikan nilai budaya Jawa yang ada berdasarkan struktur cerita tersebut.

Mijil

Poma kaki padha dipun eling

Ing pitutur ingong

Sira uga satriya arane

Kudu anteng jatmika ing budi

Ruruh sarta wasis,

Samubarangipun

(Serat Wulangreh, Pakubuwana IV)

 

Saudara sekalian,

mari semua mengingat perkataan saya

Kalian semua adalah kesatria

Semestinya tenang dan berlaku mulia,

Santun serta cerdas, pada segala tingkah laku

 

Pada bagian awal novel digambarkan tentang sosok Nun, seorang gadis miskin yang terpaksa bermain ketoprak dalam grup Chandra Poernama. Ibunya yang janda dan dua orang adiknya sangat membutuhkan penghasilannya yang tidak seberapa.

(….)

Akan tetapi, boro-boro menyediakan bedak mahal, untuk sekadar kosmetika kelas dempul pun dia terpaksa menyunat honor pemain yang tak seberapa. Ada sebenarnya kosmetika milik grup. Tetapi melihat lipstik yang sudah dioleskan ke  banyak bibir—tidak lelaki, tidak perempuan—gincu yang sudah sedikit berjamur, dan eye shadow yang sudah bercampur-campur warnanya, Nun merasa terlalu sayang untuk menyatukan benda-benda itu ke kulitnya.

(….)

Padahal honornya sekali manggung di pentas ketoprak itu tak seberapa, hanya cukup untuk membeli sekilo beras, satu keranjang berisi dua atau tiga ekor ikan asin, serta seikat-dua ikat bayam atau kangkung. (NPSC:8-9)

 

Budaya Jawa yang terlihat pada awal bab adalah penggambaran tentang pentas ketoprak, suara rebab yang digesek dan lantunan tembang menjelang pentas pertunjukan. Sekuel tersebut menunjukkan bahwa pentas budaya seperti ketoprak saat ini jarang diminati dan sepi pengunjung. Namun di antara derasnya hiburan di mal-mal kota Surakarta, ketoprak tetap diupayakan hidup sebagai simbol kesenian tradisional. Dalam novel ini, Nun dan Wiratna sebagai pemeran utama dalam setiap pentas, berupaya realistis dengan hanya menerima honor ala kadarnya karena memang hiburan tradisional macam ketoprak sudah sepi peminat.

Lakon-lakon yang ditampilkan ketoprak juga menjadi sarana nguri-uri budaya jawa. Saat ini, banyak orang Surakarta yang tidak lagi mengetahui kisah-kisah seperti Damarwulan-Menakjinggo, Jaka Tingkir, Panembahan Senapati-Ki Angeng Mangir,dan lain-lain. Penulis NPSC seperti ingin menyampaikan fakta sekaligus kritikan untuk masyarakat melalui novelnya tersebut.

 

Sinom

Amenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi

Milu edan nora tahan, yen tan milu anglakoni

Boya kaduman melik, kaliren wekasanipun

Ndilalah karsa Allah, begja-begjane kang lali

Luwih begja kang eling lawan waspada

(Serat Kalatidha, karya Ki Ranggawarsita)

 

Mendapati zaman edan, tidaklah mudah untuk dipahami

(Banyak yang) ikut edan (karena) tidak mampu bertahan,

(sebab) jika tidak ikut (gila), tidak mendapat (dan) akhirnya kelaparan.

Namun (atas) kehendak Allah, seberapa pun keberuntungan orang yang lupa (diri),

Masih beruntung orang yang sadar dan waspada.

 

Masa muda tokoh Nun adalah masa muda yang penuh kehati-hatian. Meskipun tinggal di pinggiran sungai Kalianyar dan bekerja sebagai pemain ketoprak yang rawan godaan, Nun tetap berusaha menjadi gadis yang baik. Karena kepiawaiannya menari dan memerankan tokoh utama, dia mempunyai penggemar gelap. Salah satu penggemarnya adalah pemuda bernama Naya lulusan Australia yang sedang menulis tentang profil grup ketoprak Chandra Poernama untuk korannya. Meskipun akhirnya Naya masuk ke dalam pusaran kehidupan Nun, tapi Nun tetap tidak bisa menerimanya karena perbedaan status sosial.

Dalam kehidupan masyarakat Jawa kita mengenal istilah bibit, bobot, dan bebet ketika memilih jodoh. Sepertinya pandangan tentang ini menjadi pertimbangan penulis novel NPSC sehingga tokoh Nun tidak dipersatukan dengan Naya. Budaya Jawa tentang bibit, bobot, bebet ini yang sebenarnya sudah banyak ditinggalkan masyarakat, tetap menjadi sesuatu yang penting dilestarikan. Hal ini bukan masalah strata sosial saja, tapi lebih menekankan bahwa pasangan hidup itu memang sebaiknya adalah orang yang sekufu atau sederajat dalam hal keturunan, kekayaan dan agama, agar tidak menjadi masalah pada kehidupan pernikahan selanjutnya.

(….)

Mungkin benar, Naya jatuh cinta kepadanya. Tetapi, Nun tidak yakin bahwa Naya akan mampu memperjuangkan perasaan cinta itu sampai pada… pernikahan misalnya (NPSC: 245)

(….)

“Sekarang, kamu calon istriku. Nun, rumah kecil di tepi Kalianyar sudah kurenovasi sedikit-sedikit. Setelah kita resmi menikah, kau akan tinggal di sana. Kita akan melihat matahari pagi memantul indah di hamparan kali. Tapi kau tak perlu takut digusur karena rumahku itu sah milikku sendiri.” (NPSC: 366)

 

Nun akhirnya menikah dengan Wiratna, teman mainnya di ketoprak sekaligus tetangga kampungnya yang selama ini sangat perhatian padanya. Penulis realistis mempertimbangkan bibit, bobot, dan bebet tokoh dalam ceritanya.

 

Maskumambang

Nadyan silih bapa biyung kaki nini,

Sedulur myang sanak,

Kalamun muruk tan becik

Nora pantes yen den nuta

(serat Wulangreh, Pakubuwana IV)

 

Walaupun orang tua yang menjadi jalan dirimu terlahir,

Ataupun saudara sedarah sekalipun,

Tatkala mengajarkan hal yang tak semestinya

Tidak sepantasnyalah untuk kau teladani

 

Sekuel yang lain dalam cerita adalah Denmas Daruno pemilik gedung dan grup ketoprak Chandra Poernama yang main politik dengan menjadikan grup ketoprak sebagai kendaraan politiknya. Sejak dimuat dalam koran milik Naya, grup Chandra Poernama memang lebih banyak dikenal masyarakat dan diminati. Ini dibuktikan dengan banyaknya penonton bahkan beberapa tokoh masyarakat, dosen kajian budaya di sebuah universitas, bahkan doktor lulusan Eropa yang minat dengan budaya jawa. Kebangkitan grup ketoprak tersebut dimanfaatkan oleh Daruno untuk meraih simpati masyarakat, bahwa dirinyalah orang yang peduli terhadap kebudayaan jawa di Surakarta. Dia mengatakan rela rugi ratusan juta untuk menghidupi grup ketoprak tersebut.

Budaya jawa eling lan waspada muncul dalam sekuel ketika Wiratna dan Nun tidak mau terlibat dengan keinginan Daruno tersebut.

(….)

“Jadi begini, saya memang bekerja di Chandra Poernama, tetapi Chandra Poernama bukanlah organisasi politik. Dan sebagai  budayawan, saya memilih untuk tidak terlibat dalam politik praktis. Jadi saya memilih netral di pilkada kali ini.”

(…)

Jadi kalian tidak bisa bergabung ya? Sayang sekali. Jika kalian mau bergabung dan kami terpilih sebagai wali kota dan wakil, saya janji akan mengucurkan balas budi. Hidup kalian akan terjamin. Tidak akan miskin lagi. Setidaknya…” (NPSC: 322)

 

Cara yang ditempuh oleh Daruno yang keliru membuat Nun dan Wiratno tidak mendukung. Meskipun selama ini Daruno adalah pimpinan grup yang membayar mereka usai pentas, tidak membuat Nun dan Wiratno taat padanya. Inilah yang disebut eling lan waspada dalam filosofi jawa, ingat dan selalu hati-hati. Bahwa orang lain yang meskipun itu kelihatannya baik, tapi jika melakukan sesuatu yang tidak baik di kemudian hari, itu tidak pantas untuk ditaati.

 

Asmaradhana

Gegaraning wong akrami

Dudu bandha dudu rupa

Amung ati pawitane

Luput pisan kena pisan

Lamun gampang luwih gampang

Lamun angel, angel kalangkung

Tan kena tinumbas arta

 

Modal orang membangun rumah tangga

Bukan harta bukan rupa

Hanya hati bekalnya

Gagal sekali, berhasil sekali juga

Jika mudah maka terasa sangat mudah

Jika sukar maka terasa sangat sukar

Tidak bisa dibeli dengan uang

 

Masalah asmara bagi dua insan memang unik, apalagi yang serius membangun rumah tangga. Bukan karena harta maupun rupa ketika Nun akhirnya lebih memilih menjauhi Naya yang jelas-jelas mencintainya. Seperti dalam tembang Asmaradhana, bahwa urusan cinta itu hanya hati bekalnya. Jika jodoh, maka akan terasa mudah. Begitu juga sebaliknya jika bukan jodohnya.

(….)

“Dia… Mas Naya. Dia melamarku. Aku tak yakin dia serius. Kau tahu siapa aku bukan? Ya, siapa aku? Aku hanya gadis yatim piatu, yang masih sekolah di kejar paket C. Sedangkan dia, master. Anak orang kaya. Memiliki pekerjaan mentereng. Kata Mas Wir, aku harus tahu diri. Orang menikah harus satu derajat.” (NPSC: 327)

 

Dhandhanggula

Sasmitaning ngaurip puniki, yekti ewuh yen nora weruha

Tan jumeneng ing uripe, pangrasane wis utami

Tur durung wruh ing rasa, rasa kang satuhu.

Rasaning rasa punika

Upayanen darapon sampurnaning dhiri, ing kauripanira

(serat Wulangreh, Pakubuwana IV)

 

Perlambang hidup itu sangat sulit untuk dimengerti

(banyak orang) tidak paham dengan kehidupannya

Banyak yang mengaku telah memahami,

Padahal belum meresapi dengan rasa sejati.

Karena itu, berusahalah untuk mendapatkan rasa yang sejati,

Sehingga hidup (kita) menjadi sempurna

 

Sekuel yang lain mengisahkan ibu Nun—bernama Kustanti—yang kembali didatangi mantan suaminya. Dulu mereka menikah siri dan dikaruniai tiga orang anak; Nun, Bagas dan Bagus. Namun karena tidak memberi nafkah pada diri dan anak-anaknya, Kustanti memutuskan bercerai. Tapi suaminya yang bernama Sujiwo tidak tidak menerima perceraian itu dan masih merongrong hidup Kustanti.

(….)

“Ibu sudah tak butuh lagi apa itu cinta. Sudah tua. Sekarang yang penting, ibu bisa memberi makan kalian bertiga. Itu sudah cukup.”

(….)

“Kau lihat, ibumu yang sudah keriput dan jelek ini selama ini baik-baik saja. Dan barusan, seorang lelaki mau memperkosa ibumu.” (NPSC: 128-129)

 

 

Menjalani hidup dalam keterbatasan dan menerimanya adalah karakter wanita jawa nrima ing pandum. Namun adakalanya, penerimaan itu menjadi senjata perempuan Jawa. Pada titik tertentu, penerimaan itu akan berubah menjadi pemberontakan yang kuat. Kustanti sebagai perempuan Jawa, yang sudah diambang batas sabarnya pada mantan suaminya yang terus datang mengganggu, akhirnya meninggal di tangan Sujiwo mantan suaminya itu. Perlawanannya mencapai titik puncak hingga nyawanya melayang.

(….)

“Akhirnya, aku terpaksa menghabisi nyawanya. Nun, aku tidak sengaja. Kau dengar ituuuu?” suara lelaki itu bergetar. “Aku tak sengaja membunuhnya. Dia yang bajingan, hendak menyerangku. Kau tahu, pisau itu bukan milikku, tapi miliknya. Ibumu kemana-mana menyembunyikan pisau belati di tas jeleknya itu.” (NPSC: 273)

 

Durma

Bener luput ala becik lawan beja,

Cilaka mapan saking ing badan priyangga,

Dudu saking wong liya

Mulane den ngati-ati,

Sakeh dirgama, singgahana den eling

(serat Wulangreh, Pakubuwana IV)

 

Benar salah, baik buruk, serta untung rugi,

Berasal dari dirimu sendiri,

Bukan dari orang lain

Oleh karena itu hati-hatilah

Terhadap segala ancaman,

Hindari dan (selalulah) mengingat

 

Tokoh Nun yang hanya lulus SMP dan bergaul dengan banyak orang, membuatnya semangat untuk belajar lagi. Ia berjuang keras untuk sekolah lagi melalui kejar paket C dan lulus. Ini menunjukkan karakter wanita Jawa yang tidak mudah menyerah dengan keadaan, selalu berjuang. Dalam fase kedewasaannya, seseorang memang harusnya sudah bisa memilah mana yang baik dan yang buruk, yang menguntungkan dan merugikan. Pemilihan itu berdasar pada hatinya. Nun pun melakukan itu dengan terus belajar dan mengasah dirinya sehingga menjadi gadis yang pintar dan tetap rendah hati.

 

Pangkur

Mingkar mingkuring  angkara, akarana karenan mardi siwi

Sinawang resmining kidung, sinuba sinukarta

Mrih kretarta pakartining ngelmu luhung.

Kang tumrap neng tanah Jawa,

Agama ageming aji

(serat Wedatama, Mangkunegara IV)

 

Menjauhkan diri dari nafsu angkara, karena ingin mendidik putra

Gunakanlah untaian syair dan lagu, yang dihias penuh kreasi

Agar (bisa) menjiwai ilmu luhur yang dituju.

Di tanah Jawa ini, agama adalah tuntunan utama

 

Tak hanya sekolah kejar paket C, Nun pun belajar agama di yayasan Cahaya Bangsa. Nun semakin menjauhkan diri dari nafsu, memahami hakikat hidup, dan lebih mendekatkan diri pada Allah. Ini juga sebagai karakter wanita Jawa yang selalu memegang agama ageming aji. Bahwa agama adalah tuntunan yang utama.

(….)

Satu yang paling membuat Nun sangat berkesan adalah perhatian orang nomor satu di Yayasan Cahaya Bangsa, yakni Pak Raharja yang juga mengampu bidang studi pendidikan agama. Salah satu kekhasan sistem pengajaran yayasan tersebut, baik di pendidikan formal maupun nonformal, adalah penekanan aspek pembentukan karakter lewat pendidikan agama yang porsinya hampir tiga kali lipat dari yang diwajibkan. Karena itu, meskipun siswa-siswi di sekolah tersebut 90% adalah orang-orang miskin, kualitas lulusan dari sana adalah orang-orang yang dikenal jujur, mau bekerja keras, dan rajin beribadah. (NPSC: 241-242)

 

Gambuh

Rasaning tyas kayungyun, angayomi lukitaning kalbu,

gambir wana kalawan hening ing ati,

kabekta kudu pitutur, sumingkiring reh tyas mirong

(serat Sabdatama, Ranggawarsito)

 

Hati kuat berhasrat, (untuk) melindungi kata-kata dalam kalbu,

dengan keheningan sanubari,

keharusan menyampaikan nasihat,

(untuk) melenyapkan kotoran dalam hati

 

Prinsip hidup Nun sebagai wanita Jawa lainnya adalah hasratnya menjaga kebenaran nurani. Nun selalu berusaha untuk menghindari prasangka (membersihkan kotoran hati) dan berbuat kebaikan pada orang lain. Ia selalu memberi nasihat kepada kedua adiknya. Dalam bergaul dengan Naya dan Wiratno, Nun juga selalu bersikap baik tidak berprasangka. Ini menandakan ciri kedewasaan Nun.

 

Pocung

Tutur bener puniku, sayektine apantes tiniru

nadyan metu saking wong sudra papeki

lamun becik nggone muruk, iku pantes sira anggo

(serat Wulangreh, Pakubuwana IV)

 

Ajaran yang benar itu patut kau ikuti,

Meskipun berasal dari orang yang rendah derajatnya,

namun jika baik dalam mengajarkan,

maka ia pantas kau terima

 

Nun belajar dari peristiwa kehidupan yang menimpanya. Saat Sujiwo ayah tirinya datang kepadanya dan mengancam membunuhnya, Nun berhasil melawan balik bersama dua adiknya. Dia nyaris saja membalas dendam dengan menusukkan pisau yang ada di tangannya. Namun, Wiratno berhasil mencegahnya dan melarangnya main hakim sendiri.

(….)

“Api dendam bisa membakar semua yang kita miliki. Dan jika semua telah dibakar dan menjadi abu, kita hanya bisa menyesali segalanya, Tetapi, sesal di akhir selalu datang terlambat. Nun, sebentar lagi polisi akan datang. Serahkan saja Jiwo kepada mereka dan belajarlah merajut kesabaran,” ujar Mas Wir, tegas. (NPSC: 275)

 

Megatruh

Sigra milir, kang gethek sinangga bajul

Kawan dasa kang njageni.

Ing ngarsa miwah ing pungkur.

Tanapi ing kanan kering.

Kang gethek lampahnya alon

(Babad Tanah Jawi, Yasadipura)

 

Segera mengalir, sang rakit disangga oleh buaya-buaya

Empat puluh buaya menjaganya

Di depan serta di belakang

Juga di kanan dan di kiri

Sang rakit melaju tenang

 

Kematian sang ibu membuat Nun semakin banyak belajar tentang kehidupan. Sangkan paraning dumadi. Bahwa hidup ini akan kembali pada Sang Pencipta. Nun semakin memahami, banyak bekal yang harus disiapkannya untuk di akhirat kelak. Bekal yang utama adalah manfaat untuk orang lain di sekitarnya. Sehingga saat Daruno, pemilik grup ketoprak Chandra Poernama kalah pilkada dan akan menjual gedung serta membubarkan grup tersebut, Nun tidak putus asa. Bersama Wiratno, Nun ditawari Anke dan ayahnya, Profesor Van Schendel, untuk ‘ngamen’ pentas ketoprak di 30 negara di Eropa. Uang hasilnya akan digunakan untuk membeli gedung yang akan dijual oleh Daruno.

(….)

“Tidak, grup itu tidak bubar!” ujar Mas Wir tiba-tiba. “Grup ketoprak Chandra Poernama akan tetap ada. Tak akan bubar, ada atau tidak ada gedung.”

Nun menatap Mas Wir, terperangah.

(….)

“Bagaimana kalau kita beli gedung itu?” Bola mata biru Anke berputar-putar.

“Dari mana uangnya?” dokter Yudha garuk-garuk kepala.

“Crowd funding?” Anita menngernyitkan kening.

“Bukan. Tetapi saya akan mengajak Nun dan Mas Wir ngamen.”

“Ngamen? Untuk mendapatkan tiga puluh miliar?”

“Yeaaah, bahkan mungkin bisa lebih.”

“Ngamenn kemana itu, Anke?” Mas Anto tertawa geli.

“Ngamen dari kota ke kota. Di Eropa. Main ketoprak. Mengumpulkan uang dari main ketoprak di 30 kota di Eropa.”

Semua terdiam. (NPSC: 334)

 

Kinanthi

Padha gulangen ing kalbu, ing sasmita amrih lantip.

Aja pijer mangan nendra, kaprawiran den kaesthi.

Pesunen sariranira, cegahen dhahar lan guling

(serat Wulangreh, Pakubuwana IV)

 

Asah dan latihlah kalbumu, agar kau menguasai ilmu lahir batin.

Sehingga kau menjadi pintar, jangan hanya (mengurusi) makan dan tidur.

Asahlah keperwiraanmu, bersungguh-sungguhlah dengan dirimu

(dengan) mengurangi makan dan tidur.

 

Pada akhirnya, hidup di dunia ini bukan hanya untuk makan dan tidur. Namun juga harus memikirkan kehidupan akhirat, menjadi orang yang bermanfaat. Tokoh Nun menjadi cermin bagaimana manusia itu bisa berproses, mengasah kepekaan kalbu dan menguasai ilmu lahir batin. Itulah yang dimaksud dengan ing sasmita amrih lantip.

 

Penutup

Budaya jawa dalam novel NPSC secara tersirat ada dalam seluruh konstruk cerita yang membangunnya. Tembang Macapat yang dituliskan di tiap-tiap awal sekuel menjadi benang merah yang menarik. Melalui tokoh Nun, Wiratna, Naya dan ibu Nun, budaya jawa yang luhur bisa terdeskripsikan dengan baik, diantaranya; nguri-nguri kebudayaan jawa, melihat bibit-bebet-bobot dalam memilih pasangan, sifat nrima ing pandum, sikap eling lan waspada dalam berinteraksi dengan orang-orang di sekitar, agama ageming aji yaitu agama sebagai tuntunan utama, meyakini sangkan paraning dumadi bahwa hidup ini akan kembali pada Sang Pencipta, dan sasmita amrih lantip atau menguasai ilmu lahir dan batin.

Secara umum, Afifah Afra cukup berhasil menggambarkan nilai-nilai budaya Jawa melalui novel NPSC. Meskipun nilai-nilai tersebut sangat umum ada di masyarakat Jawa, tapi pada kenyataan penerapannya, banyak orang Jawa yang mulai melupakannya. Konflik yang diangkat pun sebenarnya sederhana, tapi dengan ‘bumbu’ yang sedikit beda yakni struktur penceritaannya, novel NPSC layak untuk dinikmati pembaca. Catatan kecil, agar 11 tembang Macapat yang digunakan Afifah Afra tidak terkesan ‘tempelan’, dia harus mendalami lagi sejarah dan versi yang berbeda dari 11 tembang tersebut. Banyak hal yang sebenarnya bisa digali dari Macapat dan bisa lebih kreatif diolah masuk ke dalam cerita.

 

Daftar Pustaka

 Afra, Afifah. 2015. Nun Pada Sebuah Cermin. Jakarta: Republika.

Fananie, Zaenudin. 2000. Telaah Sastra. Surakarta: Muhammadyah University Press.

Keontjaraningrat. 1971. Manusia Dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: PT. Penerbit Djambatan.

Moleong, J. Lexy. 1991. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Nurgiyantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Ratna, Nyoman Kutha. 2007. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sangidu, 2004. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: PT. Hanindita Graha Widya.

Santosa, Iman Budhi. 2012. Spiritualisme Jawa. Yogyakarta: Memayu Publishing

Stanton, Robert. 2007. Teori Fiksi Robert Stanton (Terjemahan Sugihastuti dan Rosi Abi Al Irsyad). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sujamto. 1992. Refleksi Budaya Jawa. Semarang: Dahara Prize.

Suryadi, Linus. 1993. Regol Megal Megol Fenomena Kosmogoni Jawa. Yogyakarta: Andi Offset.

Sutrisno, Slamet. 1985. Sorotan Budaya Jawa dan yang Lainnya. Yogyakarta: Andi Offset.

Teeuw, A. 1988. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.

Wellek, Rene&Austin Warren. 1990. Teori Kesusastraan. Terjemahan Melani Budianta. Jakarta: Gramedia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *