PEMBELAJARAN REMIDIAL

PEMBELAJARAN REMIDIAL

1. PENGERTIAN PEMBELAJARAN REMIDIAL

     Menurut Ischak S.W dan Warji R. dalam bukunya Program Remidial Dalam Proses Belajar” Mengajar. memberikan pengertian Remedial Teaching sebagai berikut, kegiatan perbaikan dalam proses belajar mengajar adalah salah satu bentuk pemberian bentuk  pemberian bantuan. Yaitu pemberian bantuan dalam proses belajar mengajar yang berupa kegiatan perbaikan terprogram dan disusun secara sistematis”.

     Menurut Abin Syamsudin Makmun, remedial teaching adalah usaha guru untuk menciptakan suatu yang memungkinkan individu atau kelompok siswa tertentu mampu mengembangkan dirinya seoptimal mungkin, sehingga dapat memenuhi kriteria keberhasilan minimal yang diharapkan melalui suatu proses interaksi yang terencana, terorganisasi, terarah, terkoordinir dan terkontrol dengan lebih objektif individu dan kelompok siswa yang bersangkutan serta daya dukung sarana dan lingkungan.

     Secara umum “Pembelajaran remedial” adalah pembelajaran yang diberikan kepada peserta didik yang belum mencapai ketuntasan KD tertentu menggunakan berbagai metode yang diakhiri dengan penilaian untuk mengukur kembali tingkat ketuntasan belajar peserta didik.

  1. TUJUAN PEMBELAJARAN REMIDIAL

     Tujuan pengajaran remedial tidaklah berbeda dengan pengajaran biasa yaitu agar siswa dapat mencapai prestasi belajar sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Secara khusus pengajaran remedial bertujuan untuk memberikan bantuan yang berupa perlakuan pengajaran kepada siswa yang lambat. Kesulitan belajar ataupun gagal dalam belajar, sehingga dapat secara tuntas dalam menguasai bahan atau materi pelajaran yang diberikan dan dapat mencapai prestasi  belajar yang diharapkan melalui proses perbaikan.

Menurut Rahman Natawijaya, tujuan remedial teaching adalah:

  1. Agar siswa memahami dirinya, khususnya yang menyangkut prestasi belajar yang meliputi segi kekuatannya, segi kelemahannya, jenis dan sifat kesulitannya.
  2. Agar siswa dapat merubah dan memperbaiki cara-cara belajar yang lebih baik sesuai dengan kesulitan yang dimilikinya
  3. Agar siswa dapat memilih materi dan fasilitas belajar secara tepat untuk mengatasi kesulitan belajarnya.
  4. Agar siswa dapat mengatasi hambatan-hambatan belajar yang menjadi latar belakang kesulitannya.
  5. Agar siswa dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan yang baru dapat mendorong tercapainya hasil belajar yang lebih baik.
  6. Agar siswa dapat melaksanakan tugas-tugas belajar yang diberikan.

Secara umum pembelajaran remedial bertujuan untuk penganyaan atau pengulangan.

  1. PRINSIP PEMBELAJARAN REMIDIAL

Prinsip pembelajaran remedial sebagai berikut:

  1. Adaptif

     Setiap peserta didik memiliki keunikan dan ciri khas sendiri-sendiri. Oleh karena itu program pembelajaran remedial hendaknya memungkinkan peserta didik untuk belajar sesuai dengan kecepatan, kesempatan, daya tangkap, dan gaya belajar masing-masing. Dengan kata lain, pembelajaran remedial harus memperhatikan perbedaan individual peserta didik.

  1. Interaktif

     Pembelajaran remedial hendaknya memungkinkan peserta didik untuk secara intensif berinteraksi dengan pendidik dan sumber belajar yang tersedia. Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa kegiatan belajar peserta didik yang bersifat perbaikan perlu selalu mendapatkan monitoring dan pengawasan agar diketahui kemajuan belajarnya. Jika dijumpai adanya peserta didik yang mengalami kesulitan segera diberikan bantuan.

  1. Fleksibilitas dalam mata pembelajaran dan penilaian

     Sejalan dengan sifat keunikan dan kesulitan belajar peserta didik yang berbeda-beda, maka dalam pembelajaran remedial perlu digunakan berbagai metode mengajar dan metode penilaian yang sesuai dengan karakteristik peserta didik.

  1. Pemberian umpan balik sesegera mungkin

     Umpan balik berupa informasi yang diberikan kepada peserta didik mengenai kemajuan belajarnya perlu diberikan sesegera mungkin. Umpan balik dapat bersifat korektif maupun konfirmatif. Dengan sesegera mungkin memberikan umpan balik dapat dihindari kekeliruan belajar yang berlarut-larut yang dialami peserta didik.

      5.Pelayanan sepanjang waktu

     Program pembelajaran reguler dengan pembelajaran remedial merupakan satu kesatuan, dengan demikian program pembelajaran reguler dengan remedial harus berkesinambungan dan programnya selalu tersedia agar setiap saat peserta didik dapat mengaksesnya sesuai dengan kesempatan masing-masing.

Menurut Moh Surya, indikasi siswa yang mengalami kesulitan belajar sebagai berikut:

  1. Menunjukkan hasil belajar yang rendah di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompok siswa kelas.
  2. Hasil usaha yang dicapai dalam belajar tidak seimbang dengan yang dilakukan walaupun berusaha dengan giat tetapi juga mencapai nilai-nilai yang rendah.
  3. Menunjukkan sikap yang kurang wajar seperti acuh tak acuh, mentang, berpura-pura, dusta dan sebaginya.
  4. Menunjukkan tingkah laku yang berlainan seperti bolos, datang terlambat, tidak mengerjakan pekerjaan rumah(PR), menganggu di dalam dan di luar kelas.
  5. Lambat melakukan tugas-tugas kegiatan belajar dan lambat menyelasaikan tugas dengan waktu yang tersedia.
  6. Menunjukkan gejala emosional seperti pemurung, mudah tersinggung, pemarah, kurang gembira dalam menghadapi situasi tertentu misalnya mendapat nilai rendah, tidak menunjukkan sikap penyesalan.

Diagnose kesulitan belajar peserta didik antara lain:

  1. Kesulitan ringan (kurang perhatian saat mengikuti pembelajaran)

         Contoh: peserta didik yang bermain atau ngobrol di kelas pada saat proses pembelajaran.

  1. Kesulitan sedang (gangguan belajar dari luar peserta didik, misalnya : factor keluarga, lingkungan dan lain-lain)

       Contoh : peserta didik yang keadaan keluarganya sedang mengalami masalah misalnya broken home, hal ini akan mempengaruhi proses belajar.

  1. Kesulitan berat (misalnya: tuna rungu, tuna netra dan lain-lain)

      Contoh : peserta didik yang mengalami cacat mental yang bersekolah di sekolah formal akan mengalami kesulitan saat proses belajar, karena mereka membutuhkan perlakuan khusus tidak seperti siswa normal biasanya.

Teknik untuk mendiagnosa kesulitan belajar antara lain :

  1. Tes prasyarat

Tes prasyarat adalah tes yang digunakan untuk mengetahui apakah prasyarat yang diperlukan untuk mencapai penguasaan kompetensi tertentu terpenuhi atau belum. Prasyarat ini meliputi prasyarat pengetahuan dan prasyarat keterampilan.

  1. Tes diagnose

Tes diagnostik digunakan untuk mengetahui kesulitan peserta didik dalam menguasai kompetensi tertentu. Misalnya dalam mempelajari operasi bilangan, apakah peserta didik mengalami kesulitan pada kompetensi penambahan, pengurangan, pembagian, atau perkalian.

  1. Wawancara

Wawancara dilakukan dengan mengadakan interaksi lisan dengan peserta didik untuk menggali lebih dalam mengenai kesulitan belajar yang dijumpai peserta didik.

  1. Observasi

Pengamatan (observasi) dilakukan dengan jalan melihat secara cermat perilaku belajar peserta didik. Dari pengamatan tersebut diharapkan dapat diketahui jenis maupun penyebab kesulitan belajar peserta didik.

Pelaksanaan remedial sebagai berikut :

  1. Pembelajaran dengan metode dan media yang berbeda

Pembelajaran ulang dapat disampaikan dengan cara penyederhanaan materi, variasi cara penyajian, penyederhanaan tes/pertanyaan. Pembelajaran ulang dilakukan bilamana sebagian besar atau semua peserta didik belum mencapai ketuntasan belajar atau mengalami kesulitan belajar. Pendidik perlu memberikan penjelasan kembali dengan menggunakan metode dan/atau media yang lebih tepat

  1. Belajar mandiri atau pemberian bimbingan secara khusus

Misalnya bimbingan perorangan. Dalam hal pembelajaran klasikal peserta didik mengalami kesulitan, perlu dipilih alternatif tindak lanjut berupa pemberian bimbingan secara individual. Pemberian bimbingan perorangan merupakan implikasi peran pendidik sebagai tutor. Sistem tutorial dilaksanakan bilamana terdapat satu atau beberapa peserta didik yang belum berhasil mencapai ketuntasan.

  1. Pemberian tugas atau latian

Dalam rangka menerapkan prinsip pengulangan, tugas-tugas latihan perlu diperbanyak agar peserta didik tidak mengalami kesulitan dalam mengerjakan tes akhir. Peserta didik perlu diberi latihan intensif (drill) untuk membantu menguasai kompetensi yang ditetapkan.

  1. Belajar kelompok dengan bimbingan alumni atau tutor sebaya

Tutor sebaya adalah teman sekelas yang memiliki kecepatan belajar lebih. Mereka perlu dimanfaatkan untuk memberikan tutorial kepada rekannya yang mengalami kelambatan belajar. Dengan teman sebaya diharapkan peserta didik yang mengalami kesulitan belajar akan lebih terbuka dan akrab.

Pemilihan tutor didasarkan atas prestasi, punya hubungan sosial baik dan cukup disenangi teman-teman. Tutor berperan sebagai pemimpin dalam kegiatan kelompok sebagai pengganti guru. Metode tutor memiliki kebaikan sebagai berikut :

  1. Adanya hubungan dekat dan akrab.
  2. Bagi tutor merupakan kegiatan pengayaan.
  3. Dapat meningkatkan rasa tanggung jawan dan kepercayaan diri.
  4. Diakhiri dengan ulangan

Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam pelaksanaan remedial teaching, sasaran pokonya adalah siswa yang mengalami kesulitan belajar sehingga siswa tersebut bisa terlepas dari kesulitan tersebut dan dapat mengahadapi pembelajaran secara efektif.

Tes ulang diberikan kepada peserta didik yang telah mengikuti program pembelajaran remedial agar dapat diketahui peserta didik telah mencapai ketuntasan atau belum.

Langkah-langkah pembelajaran remedial menurut Okey (1914) :

  1. Menetapkan indicator (K-13)
  2. Menentukan tujuan
  3. Menentukan prosedur yang dipilih
  4. Menguji dari hasil yang dilakukan
  5. Meremidiasi atau mendiagnosa ulang jika diperlukan
  6. Mengadministrasi tes summative

Tujuan pembalajaran remedial antara lain:

  1. Menentukan besarnya effect
  2. Menentukan dan membandingkan besarnya effect
  3. Hubungan effect
  4. Pengalaman siswa

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *