News update: Cina dan Kaum Muslim Uighur

Kaum muslim Uighur direpresi pemerintah Cina. Mereka dianggap penyakit dan dimasukkan ke kamp interniran”

Di Xinjiang, Cina, ada beberapa ungkapan khusus yang dipakai untuk menggambarkan situasi minoritas muslim di Uighur. Kata yoq, misalnya, digunakan untuk menyebut “hilang”. Lalu, adem yoq diartikan dengan “semua orang menghilang”. Sementara weziyet yaxshi emes merujuk pada “kondisi sedang tidak baik”.

Ungkapan-ungkapan tersebut merangkum penindasan pemerintah Cina terhadap muslim Uighur.

Agustus silam, sebagaimana diwartakan BBC, Komite PBB untuk Penghapusan Diskriminasi Rasial melaporkan bahwa pemerintah Cina telah menahan sekitar satu juta orang dari komunitas Uighur dalam tempat “serupa kamp interniran berukuran besar”. Laporan komite ini didukung oleh hasil investigasi LSM HAM Amnesty International dan Human Rights Watch.

Health News : Es Teh baik ga sih buat kesehatan ?

Anak kost:”Sebenernya minum es teh baik ga si ?

Yaa. . es teh memang sangat sangat sangat tidak asing di kalangan masyarakat. Baik bagi kalangan bawah, menengah, maupun atas, es teh selalu menjadi primadona. Hebat juga yaa.. haha, kenapa bisa gitu ya ?. Terutama bagi anak kost nih. Mie ayam atau bakso dan es teh manis adalah nikmat dunia yang luar biasa bagi anak kost. Iya ga ? ngaku aja dah ah. Hampir setiap hari, bahkan setiap makan di warung, pasti ketika ditanya “mau minum apa mas/mba ?” kebanyakan pasti minta es teh. Kecuali yang lagi bener-bener ngirit nih “air putih aja bu/pak”, sambil bilang “yang gratis”, dalam hati. Tapi sebenernya, es teh itu baik ga sih buat kesehatan ? especially es teh manis nih.

Dikutip dari laman cnn news Indonesia, terlalu banyak mengkonsumsi es teh dapat menyeabkan beberapa penyakit loh. Seperti :

  1. Diabetes
    Es teh manis tentunya mengandung gula untuk memberikan rasa manis. Rasa manis dalam es teh manis ini akan menyegarkan dan menambah energi. Namun hati-hati, kandungan gula yang terlalu tinggi dalam gula akan berisiko membuat Anda terserang diabetes.
  2. Batu ginjal dan masalah ginjal
    Mengutip Elite Readers, seorang pria dilaporkan minum setidaknya 16 gelas es teh hitam setiap hari. Dia pun mengalami banyak efek negatif untuk kesehatannya, terutama dalam urusan kesehatan ginjal.

    “Hanya ada satu penjelasann yang masuk akal,” kata Umbar Ghaffar, dokter dari Medical Sciences di Little Rock, Arkansas dikutip dari CBS News.

    Dia mengungkapkan bahwa teh hitam memang memiliki banyak manfaat kesehatan tapi juga punya senyawa kimia yaitu oxalate yang yang bisa membuat gagal ginjal jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan.

  3. Penyakit kardiovaskular
    Jangan lupa bahwa es teh khususnya teh hitam mengandung kafein. Terlalu banyak minum teh dan juga kafein akan berpotensi menyebabkan masalah kardiovaskular.

    “Semua teh hitam mengandung kafein, hal ini baik dikonsumsi jika memiliki tekanan darah tinggi atau denyut jantung yang cepat. Ini akan membuatnya jadi makin buruk,” kata Suzanne Steinbaum, direktur dari lembaga kesehatan perempuan di Lenox Hill Hispotal, New York kepada Everyday Health.

  4. Obesitas
    Kandungan gula yang tinggi juga berbahaya untuk berat badan Anda. Merek-merek teh manis terkenal biasanya memiliki 250 kalori.
  5. Stroke
    Siapa sangka minum es teh manis bisa berisiko menyebabkan stroke. Ini terjadi karena es teh bisa meningkatkan jumlah trigriserida dalam tubuh.

Gimana nih ? jadi takut ? atau ah yang penting kan ga banyak-banyak, masih dalam batas wajar.

Hehe, ninggalin es teh ga segampang itu ya ferguso ? Okelah gak papa.

Tapi, AIR PUTIH LEBIH SEHAT OKE 🙂

POEMS: Patah

PATAH”

BY : Rista Anissa

SURAKARTA, 23 DESEMBER

Telah ku lepas sepasang kenangan menjelang petang
Terbanglah..
Kepakkan sayapmu
Indahkan semua tempat yang kau singgahi
Ada beribu kebahagiaan yang turut terselip disayapmu, sebenarnya

Bagikanlah..
Kesetiap mata yang memandangmu
Sehingga binar bahagia kelak kan terlihat
Disetiap pasang mata yang penuh cinta

Seperti binar
Yang bercahaya metafora dimatamu
Tatkala kau membaca kalimat biruku dikulit waktu

Kutitipkan rinduku padamu, angin !
Sebab ragaku telah menanggung rindu
Maaf..
Telah membuatmu menderita bersamaku

Karena sayap merpatiku pun telah patah
Terbanglah wahai angin !
Temukan dia di tepian langit
Di tempat segala rindu membara

Shortstory: Home

RUMAH: Alasanku pergi, adalah karena aku ingin kembali.

Surakarta, 22 Desember 2018

Aku duduk melamun di kamar kost yang sudah tiga semester ini ku tempati. Pukul tiga sore, udara solo masih begitu panas bahkan meski kutunggu sampai pukul lima nanti. Barulah sekitar pukul enam, saat adzan maghrib berkumandang gerimis akan datang diiringi udara yang mulai sejuk namun lama kelamaan membuat orang menarik selimut. Ditengah pengapnya kamar kostku, pikiranku melayang, mengembara. Mengingat wajah orang yang jauh di sana. Aku ingat rumah secara tiba-tiba. Ahh.. jika di sana udaranya tidak akan membuatku berkeringat seperti ini di sore hari. Saat hujan turun, aku tidak akan diam melamun. Namun berkutat di dapur bersama ibu. Nasi goreng dan pisang goreng special, kopi untuk ayahku, susu anlene untuk kakek dan nenekku, dan segelas indomilk untuk adikku. Sedang untukku dan ibu, cukup air putih saja atau teh di beberapa waktu.

Gerimis yang turun setelah maghrib tidak akan membuatku kedinginan. Namun justru hangat yang kurasakan. TV menyala dengan volume sedang, nasi goreng di depannya dalam nampan besar lengkap dengan sendok yang jumlahnya tak pernah kurang, enam. Kebiasaan hangat di keluargaku setiap hujan turun di waktu makan malam. Kami akan mengelilingi nampan besar itu, memakan nasi goreng itu bersama diselingi canda, tawa, dan kebiasaan ayah meniup kopi panasnya. Namun di suatu waktu, sempat aku menangis ditengah telfonku bersama ibu, “Sendoknya berkurang satu”, katanya yang membuat hatiku pilu.

Yaa. Sendok yang dimaksud ibu adalah aku. Sendok itu tak lagi di sana bersama ibu. Tapi sudah hampir dua tahun ini berada di rak lain di kota Surakarta ini. Nampan besar itu masih ada di sana, namun tak lagi dihadapanku. Entah makan malamku ditemani hujan atau tidak, selalu sebuah piring kecil dan sendok kecil yang kupegang. Tidak ada lagi duduk melingkar ber-enam. Yang ada hanya aku yang memegang piring dan makan sendirian.

Hampir setiap hari aku menelfon rumah. Suara ibuku seperti suntikan vitamin bagiku. Bahkan di awal studiku di sini, suara ibuku seperti obat maag-ku, sehari kudengar tiga kali, kalau tidak perutku akan berasa nyeri. Di hariku yang penat, suara cempreng adikku yang bersemangat mampu membuat segala beban di otakku seolah lenyap. Aku rindu rumah, demi Allah aku ingin pulang. Aku rindu rumah, dan semua yang bias kutemui ketika di rumah.

Sudah kupikirkan, aku akan menjadi ‘alien’ di kota ini. Hidup sendiri, tinggal di sebuah kamar kost sempit dengan rutinitas ngampus setiap hari. Aku baru menyadari definisi ‘sendiri’ di sini. Ada beberapa teman, namun tidak akan seperti ibu yang pundak selalu siap untuk kujadikan sandaran berbagi beban. Ketika rindu akan rumah dating namun tak bias pulang, entah karena uang atau taka da kesempatan liburan. Yang bias kulakukan hanya menyibukkan diri pada setumpuk tugas kuliah, Namun jika tak tertahan, aku hanya bias diam dan membiarkan segala ingatan itu dating.

Setiap aku lemah, entah dipusingkan oleh tugas ataupun orang-orang baru di sekitarku, wajah ibuku yang sepintas lewat adalah alarm bagiku. Bahwa aku harus bangun, bangkit dan memulai kembali. Sosok ibu yang tiba-tiba terekam jelas di otakku, mengingatkanku bahwa pundaknya itu tidak akan selamanya bias kujadikan tempat bersandar. Akan ada masanya, aku yang harus menguat untuk bias memeluknya ketika membutuhkan sandaran. Ayahku, tenaganya tidak akan tetap sama, aka nada waktu aku yang harus menggantikannya. Adik kecilku itu, ahh, ia tidak akan selamanya menjadi adik kecilku yang imut nan menggemaskan. Ia akan tumbuh besar, mulai mendewasa, bahkan akan menyamai tinggiku. Ia harus menjadi wanita hebat oleh tanganku. Aku harus siap menggantikan Ayah dan Ibu untuk membiayai SMPnya, SMAnya, bahkan S1-S2-S3nya. Kakek dan nenekku, tidak selamanya ia akan se-sehat itu. Waktu akan membawanya menua atau bahkan meninggalkanku. Aku harus cepat bangun, menorehkan senyum diwajahnya sebelum waktu menghantarkan mereka menemui-Nya dan menyesakkanku dengan penyesalan.

Aku siap bangkit, jatuh dan bangkit lagi, berlutut dan berdiri lagi, untuk mereka. Anugrah Allah yang lebih berharga dari apapun. Betapa berdosanya aku jika keringat Ayahku ku sia-siakan dengan bermain-main di sini. Otak ibuku yang terus berputar mengatur pengeluaran di rumah agar bias disisihkan untukku supaya aku tak kekurangan apapun di perantauanku. Betapa berdosanya aku jika tak sampai menggengam sukses untuk merak. Adikku, ah si kecil yang selalu berlari ke arahku setiap aku pulang, memelukku dengan suara cadelnya “Kakakku” seolah tidak ada yang lebih hebat dan lebih dirindukannya daripada aku. Betapa mengecewakannya jika aku tidak bisa menjadi sosok hebat seperti pandangannya. Kakek dan Nenekku yang selalu beranggapan bahwa si kecil yang selalu dijaganya ketika ditinggal ibunya bekerja telah beranjak dewasa. Bukan lagi si mungil yang selalu mereka ikuti kemanapun langkahnya sperti saat ia belajar berjalan. Yang sekarang bias mereka jaga dan mereka ikuti lewat doa. Betapa berdosanya aku saat mereka meminta Allah menguatkanku dengan selalu menyebut namaku dalam doanya, namun aku justru melemah. Maka dari itu, aku harus kuat. Harus mampu berpijak di bumi dengan kakiku sendiri. Senyumku, mungkin adalah sebait dari beberapa bait doa-doa mereka pada Yang Maha Kuasa. Maka aku harus tetap tersenyum.

Di sore ini, di akhir lamunanku di kamar kost sempit ini, aku bertekad untuk kuat, selalu tersenyum dan bersemangat. Waktu akan mendewasakanku, doa keluarga di rumah akan mengiringi dan menjagaku, dan Allah-ku akan selalu menyertaiku dalam bagaimanapun aku. Aku hanya perlu bangkit, melangkah dan berusaha untuk tidak kalah.

-RAM-

Agriculture :Kacang Hias (Arachis pintoi) sebagai Legum Cover Crop pada Perkebunan Kelapa Sawit (Elais guinensis)

Arachis pintoi adalah tanaman kacang-kacangan yang dikenal dengan nama pinto peanut dalam bahasa Inggris, dan kacang hias dalam bahasa Indonesia. Tanaman ini berasal dari lembah Jequitinhonha, San Fransisco dan sepanjang sungai Tocantins di Brazil. Arachis pintoi merupakan salah satu tanaman penutup tanah yang bisa digunakan pada perkebunan kelapa sawit. Tanaman penutup tanah mempunyai peran yang sama dengan mulsa, yaitu mengurangi penguapan dari tanah, mempertahankan ketersediaan air tanah, menyediakan bahan organik untuk memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah, serta dapat menekan perkembangan gulma pada lahan budidaya.

Jenis tanaman ini tumbuh dan berkembang dengan baik pada daerah subtropika dan tropika dengan curah hujan tahunan lebih dari 1000 mm per tahun. Tanaman ini cukup toleran terhadap kekeringan, dan dapat bertahan dalam kondisi 3-4 bulan kering, tetapi akan menggugurkan banyak daun pada periode tersebut. Pertumbuhan A. pintoi akan terhambat dan daunnya menjadi kuning pada tanah yang kekurangan atau kelebihan air. Tanaman ini juga mempunyai daya adaptasi yang baik terhadap berbagai jenis tanah, mampu tumbuh dengan baik pada tanah dengan tekstur liat sampai tanah berpasir. Tanaman ini juga mampu beradaptasi baik pada kondisi kesuburan tanah rendah dan pH sangat masam, serta toleran terhadap kejenuhan aluminium yang tinggi. A. pintoi toleran terhadap cahaya rendah atau naungan, bahkan lebih baik dibandingkan dengan keadaan terbuka atau cahaya penuh.