Shortstory: Home

RUMAH: Alasanku pergi, adalah karena aku ingin kembali.

Surakarta, 22 Desember 2018

Aku duduk melamun di kamar kost yang sudah tiga semester ini ku tempati. Pukul tiga sore, udara solo masih begitu panas bahkan meski kutunggu sampai pukul lima nanti. Barulah sekitar pukul enam, saat adzan maghrib berkumandang gerimis akan datang diiringi udara yang mulai sejuk namun lama kelamaan membuat orang menarik selimut. Ditengah pengapnya kamar kostku, pikiranku melayang, mengembara. Mengingat wajah orang yang jauh di sana. Aku ingat rumah secara tiba-tiba. Ahh.. jika di sana udaranya tidak akan membuatku berkeringat seperti ini di sore hari. Saat hujan turun, aku tidak akan diam melamun. Namun berkutat di dapur bersama ibu. Nasi goreng dan pisang goreng special, kopi untuk ayahku, susu anlene untuk kakek dan nenekku, dan segelas indomilk untuk adikku. Sedang untukku dan ibu, cukup air putih saja atau teh di beberapa waktu.

Gerimis yang turun setelah maghrib tidak akan membuatku kedinginan. Namun justru hangat yang kurasakan. TV menyala dengan volume sedang, nasi goreng di depannya dalam nampan besar lengkap dengan sendok yang jumlahnya tak pernah kurang, enam. Kebiasaan hangat di keluargaku setiap hujan turun di waktu makan malam. Kami akan mengelilingi nampan besar itu, memakan nasi goreng itu bersama diselingi canda, tawa, dan kebiasaan ayah meniup kopi panasnya. Namun di suatu waktu, sempat aku menangis ditengah telfonku bersama ibu, “Sendoknya berkurang satu”, katanya yang membuat hatiku pilu.

Yaa. Sendok yang dimaksud ibu adalah aku. Sendok itu tak lagi di sana bersama ibu. Tapi sudah hampir dua tahun ini berada di rak lain di kota Surakarta ini. Nampan besar itu masih ada di sana, namun tak lagi dihadapanku. Entah makan malamku ditemani hujan atau tidak, selalu sebuah piring kecil dan sendok kecil yang kupegang. Tidak ada lagi duduk melingkar ber-enam. Yang ada hanya aku yang memegang piring dan makan sendirian.

Hampir setiap hari aku menelfon rumah. Suara ibuku seperti suntikan vitamin bagiku. Bahkan di awal studiku di sini, suara ibuku seperti obat maag-ku, sehari kudengar tiga kali, kalau tidak perutku akan berasa nyeri. Di hariku yang penat, suara cempreng adikku yang bersemangat mampu membuat segala beban di otakku seolah lenyap. Aku rindu rumah, demi Allah aku ingin pulang. Aku rindu rumah, dan semua yang bias kutemui ketika di rumah.

Sudah kupikirkan, aku akan menjadi ‘alien’ di kota ini. Hidup sendiri, tinggal di sebuah kamar kost sempit dengan rutinitas ngampus setiap hari. Aku baru menyadari definisi ‘sendiri’ di sini. Ada beberapa teman, namun tidak akan seperti ibu yang pundak selalu siap untuk kujadikan sandaran berbagi beban. Ketika rindu akan rumah dating namun tak bias pulang, entah karena uang atau taka da kesempatan liburan. Yang bias kulakukan hanya menyibukkan diri pada setumpuk tugas kuliah, Namun jika tak tertahan, aku hanya bias diam dan membiarkan segala ingatan itu dating.

Setiap aku lemah, entah dipusingkan oleh tugas ataupun orang-orang baru di sekitarku, wajah ibuku yang sepintas lewat adalah alarm bagiku. Bahwa aku harus bangun, bangkit dan memulai kembali. Sosok ibu yang tiba-tiba terekam jelas di otakku, mengingatkanku bahwa pundaknya itu tidak akan selamanya bias kujadikan tempat bersandar. Akan ada masanya, aku yang harus menguat untuk bias memeluknya ketika membutuhkan sandaran. Ayahku, tenaganya tidak akan tetap sama, aka nada waktu aku yang harus menggantikannya. Adik kecilku itu, ahh, ia tidak akan selamanya menjadi adik kecilku yang imut nan menggemaskan. Ia akan tumbuh besar, mulai mendewasa, bahkan akan menyamai tinggiku. Ia harus menjadi wanita hebat oleh tanganku. Aku harus siap menggantikan Ayah dan Ibu untuk membiayai SMPnya, SMAnya, bahkan S1-S2-S3nya. Kakek dan nenekku, tidak selamanya ia akan se-sehat itu. Waktu akan membawanya menua atau bahkan meninggalkanku. Aku harus cepat bangun, menorehkan senyum diwajahnya sebelum waktu menghantarkan mereka menemui-Nya dan menyesakkanku dengan penyesalan.

Aku siap bangkit, jatuh dan bangkit lagi, berlutut dan berdiri lagi, untuk mereka. Anugrah Allah yang lebih berharga dari apapun. Betapa berdosanya aku jika keringat Ayahku ku sia-siakan dengan bermain-main di sini. Otak ibuku yang terus berputar mengatur pengeluaran di rumah agar bias disisihkan untukku supaya aku tak kekurangan apapun di perantauanku. Betapa berdosanya aku jika tak sampai menggengam sukses untuk merak. Adikku, ah si kecil yang selalu berlari ke arahku setiap aku pulang, memelukku dengan suara cadelnya “Kakakku” seolah tidak ada yang lebih hebat dan lebih dirindukannya daripada aku. Betapa mengecewakannya jika aku tidak bisa menjadi sosok hebat seperti pandangannya. Kakek dan Nenekku yang selalu beranggapan bahwa si kecil yang selalu dijaganya ketika ditinggal ibunya bekerja telah beranjak dewasa. Bukan lagi si mungil yang selalu mereka ikuti kemanapun langkahnya sperti saat ia belajar berjalan. Yang sekarang bias mereka jaga dan mereka ikuti lewat doa. Betapa berdosanya aku saat mereka meminta Allah menguatkanku dengan selalu menyebut namaku dalam doanya, namun aku justru melemah. Maka dari itu, aku harus kuat. Harus mampu berpijak di bumi dengan kakiku sendiri. Senyumku, mungkin adalah sebait dari beberapa bait doa-doa mereka pada Yang Maha Kuasa. Maka aku harus tetap tersenyum.

Di sore ini, di akhir lamunanku di kamar kost sempit ini, aku bertekad untuk kuat, selalu tersenyum dan bersemangat. Waktu akan mendewasakanku, doa keluarga di rumah akan mengiringi dan menjagaku, dan Allah-ku akan selalu menyertaiku dalam bagaimanapun aku. Aku hanya perlu bangkit, melangkah dan berusaha untuk tidak kalah.

-RAM-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *