Sulistyani Prabu Aji (S3 PPPM UNS)
Farid Setyo Nugroho (S3 IKM UNS)

Stunting merupakan permasalahan kesehatan prioritas nasional yang perlu diselesaikan. Saat ini prevalensi stunting di Indonesia masih diatas 20% (standart toleransi WHO dibawah 20%). Tingginya angka prevalensi stunting menjadi tantangan bagi masyarakat didunia kesehatan untuk menyelesaikannya. Stunting dapat mengakibatkan anak lahir dengan tinggi badan kurang (pendek) jika dibanding anak seusianya. Permasalahan seperti ini tentu saja akan mempengaruhi kualitas generasi bangsa dimasa depan.

Pada dimensi lain berdasarkan Survei yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan masih terdapat sebesar 36,3% remaja putri usia 15-19 tahun yang mengalami kondisi berisiko kurang energi kronik, sebesar 33,5% wanita usia subur 15-49 tahun yang mengalami kondisi berisiko kurang energi kronik dan yang mengalami anemia sebesar 37,1%.

Stunting adalah kondisi yang ditandai ketika panjang atau tinggi badan anak kurang jika dibandingkan dengan umurnya. (Setia Putri, 2022)

Berdasarkan pernyataan diatas, maka saya berinisiatif membuat Pemberdayaan Berbasis Masyarakat cegah Stunting di lingkungan perkotaan.

Pemberdayaan masyarakat adalah proses pembangunan di mana masyarakat berinisiatif untuk memulai proses kegiatan sosial untuk memperbaiki situasi dan kondisi diri sendiri. Pemberdayaan masyarakat hanya bisa terjadi apabila masyarakat itu sendiri ikut pula berpartisipasi (Hardianto, 2020)

Diperkirakan pada tahun 2025, angka stunting balita di seluruh dunia akan meningkat jika tidak ada upaya pencegahan. (Hartono, 2020)

Hingga kini, pencegahan stunting masih menjadi kendala meski upaya pemerintah terus dilakukan. (PrabuAji, 2022)

Adapun Pemberdayaan masyarakat yang penulis lakukan adalah (PrabuAji, 2022)

  1. Memberikan Pelatihan Promosi kesehatan (edukasi) kepada kader kesehatan tentang pengertian, ciri ciri dan pencegahan stunting
  2. Mengadakan Lomba kreativitas makanan yang berbahan dasar sama tetapi dalam rupa yang berbeda. Misalkan bahan dasar tempe dapat dijadikan pizza, kudapan, sandwich, dst
  3. Membuat Konten edukasi visual maupun Leaflet tentang stunting untuk ditayangkan di ruang tunggu fasilitas pelayanan kesehatan (Fasyankes) sehingga masyarakat dapat dengan mudah memperoleh informasi tentang stunting.
  4. Membuat Video semenarik mungkin melalui media digital untuk di upload di sosial media guna menarik perhatian masyarakat sehingga masyarakat tau tentang stunting dan pencegahanya
  5. Melakukan pendekatann kepada masyarakat serta pendataan berbasis PIS PK  dalam pencegahan Stunting
  6. Membuat tulisan maupun opini di surat kabar tentang pencegahan stunting
  7. Melakukan edukasi kepada pengasuh atau orangtua tentang gizi seimbang
  8. Memamntau tumbuh kembang Bayi dan Balita melalui Posyandu
  9. Memantau kehamilan dengan baik, serta mengedukasi ibu supaya lebih paham tentang bahaya stunting sehingga ibu hamil melakukan PHBS dan makan makanan dengan gizi seimbang.
Stunting