Skip to content

Sekali Temu

Bagian Pertama pada Sekali Temu

 

Surat ini tertulis untuk kamu, yang entah sampai entah tidak kepadamu.

Hai! Kenalkan, ini aku gadis yang begitu  ingat bagaimana persisnya pertemuan kita dulu. Salam kenal dariku untukmu yang sekarang sedang membaca surat ini.

Mungkin sekarang kamu mulai bertanya-tanya, siapakah aku sebenarnya dan peristiwa apa yang pernah mempertemukan kita berdua? Kiranya aku benar menebak, kamu pasti sudah lupa akan hal itu atau bahkan mungkin kamu sama sekali tak mengerti apa maksudku berbicara seperti ini. Tak apa bila memang begitu adanya, sepertinya aku saja yang memang terlalu memetak-metakkan setiap kejadian yang baru pertama kali aku rasakan. Pertemuan pertama kita contohnya.

Aku akan memulai cerita ini dari masa awal kita bertemu di bangku sekolah. Seragam putih abu yang masih sangat bersih kala itu kau kenakan dengan begitu rapi. Wajah lugu, kesan pemalu, dan pendiam sudah menjadi penilaian pertamaku tentang kamu. Tapi tunggu, bukan itu yang menarik perhatianku. Semuanya terasa biasa saja, tak ada yang istimewa atau bahkan membuatku amat sangat bahagia saat itu.

Hingga pada akhirnya ada satu situasi yang mempertemukan kita. Aku tidak pernah yakin bila kamu  akan mengingat-ingat setiap peristiwa yang terjadi di antara kita dulu. Namun bila yang terjadi adalah sebaliknya, aku akan meminta maaf padamu saat ini juga.

Jadi, kamu mau kan  memaafkan gadis penulis surat ini? Stop! Tak perlu dijawab, agar diammu bisa kujadikan jawaban iya untuk permohonan maafku.

 ∞ ∞ ∞

Malam inagurasi masa putih abu-abu bukan hal yang kupilih untuk kulupakan hingga saat ini. Meskipun aku sadar, aku bukan gadis tercantik yang tampil di sana malam itu. Tapi perkenalan kita, itu yang membuatku selalu ingin mengabadikan memorinya di dalam ingatanku sendiri. Kemudian memutuskan untuk membaginya denganmu hari ini melewati surat yang kutulis sendiri.

“Memangnya panitia kita mengharuskan kamu memakai semua ini?” Itu yang kamu ucapkan pertama kali saat menghampiriku di taman sekolah. Tanpa menyebutkan seluruh atau sebagian huruf yang ada pada nama depanku.

Sontak aku menengok ke arahmu seraya berpikir, siapa laki-laki yang tanpa permisi datang dan berkomentar mengenai pakaianku ini?

Dan sepertinya kamu menangkap bagaimana ekspresi mukaku kala mendengar pertanyaan itu, sehingga membuatmu langsung mengenalkan diri kepadaku, “Sean” Katamu.

Sedangkan aku masih memilih untuk tetap diam setelah mengetahui namamu. Bukan bermaksud untuk membuatmu pergi, hanya saja aku terlalu bingung untuk sekedar menanggapi perkenalan yang sudah kamu mulai lebih dulu saat itu.

“Kenapa bicara begitu?” Tanyaku, aku sudah seperti kehilangan kata-kata di otakku untuk bisa mengajakmu kembali berbicara.

“Kamu terlihat seperti kurang nyaman, boleh kubantu?” Dengan entengnya kamu menawarkan bantuan kepadaku, yang sesungguhnya masih tak kumengerti bantuan apa yang akan kamu beri.

Hingga sesaat kemudian kamu sudah berjongkok di hadapanku, mungkin kebisuanku saat itu sudah kau artikan sebagai jawaban mengiyakan. Sampai-sampai kamu langsung memutuskan untuk melakukan hal itu tanpa komando sekalipun dariku.

“Orang kalau sudah merasa tidak nyaman dengan sesuatu, tak perlu ditanyakan langsung sudah pasti akan terlihat dari jauh.” Persis seperti itu kalimat yang kamu ucapkan saat itu sambil melepas stiletto-ku satu per satu. Aku baru saja menyadari bahwa kamu orang yang terlalu peka untuk sekedar mengetahui ada gadis bodoh yang memaksakan diri menggunakan stiletto yang jelas-jelas sudah melukai kedua tungkainya itu.

Kemudian kamu mengeluarkan dua buah plester dari saku celanamu, dan di saat itulah tanpa sengaja kamu pun turut menjatuhkan id card panitia inagurasi yang jelas bertuliskan nama “SEAN”. Seketika otakku mulai berpikir keras, ya aku ingat. Kamu adalah panitia yang beberapa saat sebelum itu sempat kusemprot dengan segala omelan yang keluar dari mulutku.

Bukan apa-apa, semua yang kulakukan pasti ada sebabnya. Dan semoga kamu ingat, sebelum itu kamu menabrakku dengan membawa segala perlengkapan acara yang kamu letakkan di dalam sebuah kardus. Jelas hal itu sangat mengganggu, asal kamu tahu. Maka dari itu aku bersikap begitu padamu sebelumnya.

Namun seketika rasa kesalku hilang dan berubah menjadi rasa bersalah atau mungkin malu, begitu aku menatap ke arah id card itu. Merasa menjadi orang paling bodoh yang dengan berani memaki panitia acara yang tengah dihadirinya.

“Aku minta maaf Kak, tentang kejadian yang tadi.” Kata-kata itu terlontar begitu saja saat kamu sedang fokus memasangkan plester pada tungkai-tungkai kakiku.

“Panggil Sean aja, kita seangkatan kok.” Sudah seperti kehilangan muka aku saat kamu berkata seperti itu, rasanya rasa maluku ini sudah sampai di ujung kepala.

“Oh iya, Sean.” Dan kamu jelas tersenyum saat itu, itu sangat menyebalkan.

Kenapa laki-laki ini bahagia bisa mempermalukanku seperti ini? Pikirku.

“Sepertinya sekarang kamu akan lebih nyaman dengan sepatumu itu…”

“Sama-sama” Kamu melanjutkan ucapanmu saat aku belum mengatakan apapun, apa kamu memang sangat tidak sabar seperti itu sejak dulu? Kamu selalu membuatku merasa seperti, mengapa aku harus dipertemukan dengan orang sepertimu tapi juga aku tidak pernah mencoba pergi darimu?

Dan lagi, saat aku hendak mengucapkan terima kasih kamu sudah lebih dulu melangkah meninggalkanku yang masih terduduk di taman.

“Sean, tunggu.” Berhasil. Kamu berhenti, tapi tak berputar untuk menghadap ke arahku.

Jika kamu bertanya apakah aku kesal? Sangat. Tapi sudahlah, kamu memang seperti itu sejak dulu.

Untuk yang satu ini, aku harap kamu ingat. Saat kamu menghentikan langkahmu kala itu aku berucap sedikit lebih keras kepadamu, “Shena” entah kamu bersedia mengakui atau tidak saat itu aku melihat kedua bahumu bergerak turun seolah kamu sedang bernapas lega begitu aku menyebutkan namaku.

Sekarang, bolehkah aku bertanya apa yang sebenarnya ada dalam benakmu saat kamu mendengar kata ‘Shena’ kala itu? Apa kamu keberatan untuk menjelaskannya pada balasan surat ini?

Sungguh ku ingin segera membacanya.

Published inAksara Bercerita

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *