Skip to content

Sekali Temu #2

Bagian Kedua pada Sekali Temu

 

Ini surat kedua yang sengaja kutulis dengan niat dari hati untukmu, lagi.

Dari awal aku tak berniat untuk mengirimkan ini kepadamu. Baik untuk hari ini, besok, atau entah kapanpun itu. Tapi bila nanti takdirku atau bahkan mungkin takdir kita berbicara lain, bukan tak mungkin bila surat ini akan sampai  kepadamu.

Bagiku akan selalu ada kisah pada setiap temu, begitu juga perihal temuku denganmu. Mungkin manusia sengaja diciptakan Allah untuk bisa melupakan beberapa hal yang terjadi dalam hidup ini, pun Dia juga membiarkan otak manusia itu memilih, hal-hal mana yang ingin dia lupakan atau hal-hal mana yang tetap ingin dia abadikan.

Sean, dari dulu aku terlalu paham bila ada sebuah kata yang memberi jarak untuk kita. Kata itu pula yang membuatku memilih untuk menulis surat ini yang kupikir hanya akan untuk kubaca sendiri hingga waktu yang tidak bisa ditentukan.

Susah, kata itu yang bagiku sangat mampu mendefinisikan segalanya yang terjadi antara aku dan kamu. Banyak kesusahan yang aku alami, banyak memori yang susah aku abadikan, banyak kendala yang membuat kita semakin susah untuk mengkomunikasikan segalanya. Sehingga aku mulai memilih menulis untuk bisa terus berkomunikasi dan mengabadikan semua perihal kita.

Jika aku diberi pilihan oleh semesta, diberi kesempatan untuk terus meniti harapan, aku akan meminta untuk bisa terus menulis. Menulis segala apa yang terjadi dalam perjalananku hingga hari ini. Perjalanan yang membawa aku beserta surat-surat yang pernah kutulis ini kepadamu.

∞ ∞ ∞

Aku ingat persis kamu adalah satu-satunya teman lelakiku yang amat sangat memahami aku. Meski kita baru bertemu di putih abu-abu, tapi itu tak pernah menjadikanmu tak mengerti perihal aku.

Di sini, aku yang harus bersyukur pernah ada di dalam hidupmu, sebagai apapun itu seperti apa yang pernah kamu bilang.

Kamu yang  selalu mengajarkan aku apa arti dewasa, kamu yang selalu menuntun aku menjadi yang seharusnya, dan kamu yang selalu ada tanpa pernah berpikir untuk pergi, itu yang aku tahu. Dan darimu juga aku mulai belajar tentang apa yang dinamakan rasa.

Kamu hadir di saat aku masih buta akan sebuah rasa, meski mungkin kamu juga merasakannya. Aku ingat sekali tentang satu kejadian, dimana itu adalah hari ulang tahun salah satu teman kita. Pesta ulang tahun, kue ulang tahun, bahkan hingga krim dari kue itu sendiri sudah bukan menjadi satu hal yang asing.

Tapi ada satu yang asing, perlakuanmu padaku saat hadir pada pesta  ulang tahun yang satu itu. Ingatkah kamu tentang krim kue ulang tahun yang berhasil mengotori seluruh permukaan wajah kita berdua? Krim ulang tahun yang berhasil menarik perhatian semua undangan kala itu, ingatkah kamu?

Maaf, bila aku salah sudah memilih untuk terus mengingat kejadian itu. Dadaku berdegup kencang saat kamu dengan tanpa ragu memeluk tubuhku dari belakang, Sean. Mungkin memang tak ada hal buruk yang sedang berkeliaran di pikiranmu. Tapi apa pernah terlintas di benakmu, bahwa kamu laki-laki pertama yang berbuat seperti itu kepadaku?

Aku jatuh saat kamu mencoba mengotori wajahku dengan krim kue ulang tahun itu, tapi bukan perihal jatuh yang sedang ingin aku bicarakan. Namun lebih kepada kemana tubuhku terjatuh saat itu, hingga berhasil menarik semua pasang mata yang ada pada pesta tersebut. Pelukanmu, itu jawabannya.

Kumohon kamu tidak terburu-buru merasa bersalah perihal ini, sebab aku tidak ada niatan untuk memarahi kamu. Aku tahu yang kamu lakukan padaku saat itu hanyalah sebuah hal yang biasa, tapi sayangnya aku tak merasa begitu.

Rasanya beda, aku belum pernah  merasa seperti itu sebelumnya. Dan aku yakin saat itu kedua pipiku pasti sudah memerah di hadapanmu, untungnya kamu sendiri yang sudah menutupi semua itu dengan krim kue ulang tahun teman kita.

Di situlah, aku merasa ada secuil rasa yang mulai menggangguku tiap kali aku ada di dekatmu.  Ada degup yang tak pernah bisa aku kendalikan saat aku sedang bersamamu. Apakah kamu juga  ikut merasakannya? Atau ini hanya perihal aku dan segenap rasa yang tak pernah aku mengerti?

Hanya kamu yang tahu jawabannya, dan hanya kamu pula yang paling mengerti apakah aku berhak mendapatkan jawabannya atau tidak.

Mungkin cukup sekian yang bisa aku ceritakan lewat surat ini, sampai jumpa Sean di surat ketiga, keempat, dan  seterusnya.

Published inAksara Bercerita

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *