Skip to content

Sekali Temu #3

Bagian Ketiga pada Sekali Temu

 

Teruntuk Uinsean Ibravandya surat ketiga ini aku tuliskan.

Rasanya aku ingin tersenyum menulis kalimat pertama pada surat ini. Mengingat betapa pengecutnya aku yang mungkin tak akan pernah berani mengirimkan surat ini kepadamu.

Bagaimana? Apa kamu sudah bosan membaca semua tulisan-tulisanku ini? Atau justru kamu ingin terus mengikuti permainanku dengan menunggu surat-suratku yang berikutnya? Sepertinya itu aku yang sangat menginginkan, bukan kamu.

Jangan tersenyum, aku takut jika ada yang melihatmu nanti mereka berpikir kamu gila. Padahal aku sudah berpikiran seperti itu lebih dulu sejak beberapa tahun yang lalu, saat kamu dengan santainya meminta maaf kepadaku di depan pintu gerbang sekolah.

Ingatkah kamu akan peristiwa itu? Kamu yang berjalan ke arahku dengan sebuah ice cream di tangan kananmu, dan kemudian berbisik ke telingaku untuk meminta maaf.

Untuk kali ini aku yang akan mengaku lupa, ya aku lupa apa yang saat itu menjadi penyebab perang dingin di antara kita. Tapi jika aku boleh menerka, sepertinya perang dingin itu terjadi saat kamu dengan tiba-tiba membatalkan janji denganku untuk pergi ke suatu tempat tiga sebelum peristiwa itu. Tolong ingatkan aku jika ada yang salah perihal cerita kali ini.

“Maafin ya…” Suara itu yang jelas tertangkap oleh telinga kiriku dan membuatku memilih untuk tak bereaksi apapun terhadapmu. Tapi tunggu, aku mohon kamu jangan berpikir macam-macam lebih dulu.

Aku memang diam kala itu, tapi bukan berarti aku masih marah padamu. Sama sekali bukan, mungkin tiga hari sebelumnya memang aku kesal karena kamu dengan seenaknya membatalkan semua yang sudah direncanakan.

Aku juga tak peduli kalau kita memang hanya sebatas teman kala itu, pun aku tak pernah mengharapkan yang lebih darimu. Tapi yang perlu kamu tahu mengapa aku memilih diam saat kamu mencoba meminta maaf, itu semua karena aku merasa ada yang aneh ketika kamu memperlakukan aku seperti itu.

Aku suka, aku suka kamu yang dengan jantan mengakui kesalahanmu hari itu. Di saat laki-laki lain mungkin yang aku tahu hanya akan meminta maaf melalui telepon atau sekedar meninggal pesan singkat, tapi kamu beda. Kamu lebih dari laki-laki kebanyakan.

Aku tidak paham denganmu, apa kamu tidak sedikitpun juga merasa kesal padaku? Sebab hari-hari sebelum itu aku memilih untuk tidak menghiraukan setiap temu kita dan aku memilih untuk menghindari kamu. Sampai akhirnya kamu yang datang lebih dulu untuk meminta maaf kepadaku.

Aku mencoba bicara saat kamu mulai menikmati ice cream  yang tadi sudah sempat kamu beli, aku berkata “Aku juga salah kok di sini, maafin juga ya… harusnya aku langsung negur kamu esokan harinya, bukan malah diemin kamu sampai hari ini.”

Aku begitu ingat kamu yang hanya tersenyum sambil terus menikmati ice cream –mu itu, di situ aku berpikir kenapa sih laki-laki ini malah makan ice cream-nya sendirian? Bukannya malah dibagi ke aku…

Enggak-enggak, itu becanda kok. Aku sudah tak memperdulikan apa yang sedang kamu nikmati saat itu, aku hanya merasa beku saat itu. Bukan karena ice cream-mu yaa… tapi karena gerakan tangan kananmu yang mulai menyentuh sebagian permukaan wajahku waktu itu.

Aku tahu mungkin kamu merasa terganggu dengan beberapa helai rambut yang berkeliaran menutupi sebagian wajahku, hingga kamu memilih untuk menyisipkannya ke belakang telingaku.

Lidahku kelu saat itu asal kamu tahu, terlebih saat aku mendengar “Kamu nggak akan seperti itu kalau aku nggak berbuat salah, jadi kamu nggak perlu minta maaf kayak gini, Shen.”

Itu, itu kalimat yang keluar dari mulutmu saat kamu mulai menyisipkan helaian rambut yang menggangguku.

Aku tahu kamu memang bukan ahlinya dalam berinteraksi dengan perempuan, dan itu yang justru membuatku mati kutu. Kenapa kamu bisa bersikap seperti itu kepadaku? Sedangkan selama ini yang aku tahu kamu selalu bersikap acuh pada kebanyakan teman perempuanmu. Apa sebenarnya maksudmu membuatku sampai merasa seperti itu?

Aku yakin sekarang pasti kamu tengah tersenyum lebar, berpikir bahwa dulu kamu bisa sehebat itu membuat seorang Shena sampai terbawa perasaan begitu dalam karena ulahmu.

Sean, perlu kamu tahu. Kamu memang  sesering itu membuatku kesal dan kemudian mengembalikan suasana dengan sangat drastis. Kamu itu sengaja mempelajarinya atau mungkin kamu memang ahli perihal itu?

Harapanku satu, semoga kamu tak melakukan itu pada semua wanita yang mengenalmu. Cukup aku dan perempuan yang pernah kamu kagumi itu. Dan biarkan istrimu nanti menjadi wanita terakhir yang menerima itu, darimu.

Sekian dulu surat ketigaku. Bagaimana Sean? Apakah kamu mulai mengingat semua peristiwa-peristiwa yang sudah kuceritakan?

Setelah ini aku akan memberi lebih banyak kisah kepadamu, agar kamu mengerti seperti apa rasanya menjadi aku yang memiliki teman menyebalkan sepertimu.

Sampai jumpa pada surat berikutnya, dan semoga kamu berkenan untuk mengirimkan balasannya kepadaku di kemudian hari.

Published inAksara Bercerita

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *