Service AC Pekanbaru – Dahulu, Air Conditioner atau AC hanya dipasang di rumah-rumah orang berkantong tebal. Tapi kini, mesin penyejuk udara ini tidak lagi dianggap sebagai barang mewah. AC adalah mesin hasil inovasi teknologi yang diciptakan untuk menghasilkan serta menjaga kestabilan suhu udara serta kelembabannya di dalam ruangan.

Tak hanya mendinginkan, AC juga digunakan untuk menghangatkan udara atau dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Namun sejauh ini, AC banyak difungsikan sebagai penyejuk ruangan. AC bahkan menjadi teknologi yang harus dipasang di bangunan-bangunan di daerah padat penduduk, termasuk di daerah non tropis untuk mengusir hawa hangat atau sebagai penyaman udara.

Seorang arsitel asal Medan, Sumatera Utara, Hendra Syafuddin, kebutuhan akan AC tidak hanya dipengaruhi oleh suhu udara, melainkan polusi, buruknya sirkulasi udara, serta desain atau bentuk ruangan. Namun iklim panas yang menghasilkan suhu hangat di dalam ruangan tetap menjadi alasan utama meningkatknya kebutuhan akan AC di Indonesia.

Lalu, bagaimana perkembangan AC hingga kemudian digunakan di Indonesia?

Jika menelisik kembali ke belakang, AC sebenarnya bukanlah barang baru. Jauh sebelum AC mengalami perkembangan dengan berbagai tipe seperti saat ini, AC sudah lebih dulu digunakan.Romawi Kuno

Berawal dari zaman Romawi Kuno. Ketika itu, pendinginan suhu di ruangan dilakukan dengan memanfaatkan alat-alat sederhana. Yakni menggunakan penampung air agar dapat dialirkan ke dinding di dalam rumah.

Sistem sederhana tersebut ternyata berhasil menurunkan suhu hangat di ruangan. Kendati sederhana, ternyata sistem ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sehingga, tidak banyak yang bisa memanfaatkan alat ini untuk dipasang di rumah sebagai pendingin ruangan.

  • Abad Pertengahan di Persia

Selain Romawi Kuno, cikal bakal AC juga diciptakan di Persia pada Abad Pertengahan. Teknik pendingin udara yang digunakan di jauh berbeda dari zaman sebelumnya, yakni memanfaatkan tangki air serta menara angin sebagai alat pendingin bangunan atau ruangan selama musim panas.

  1. Inggris dan Amerika Serikat

Pada 1820, ilmuan dari Inggris, Michael Faraday menciptakan temuan baru sebagai pendingin udara dalam ruangan. Ketika itu, pendingin udara ciptaannya memanfaatkan Gas Amonia.

Kemudian di tahun 1840, seorang dokter, Dr. John Gorrie, juga menemukan cara untuk mengusur hawa hangat di ruangan rumah sakit Apalachicola di kawasan Florida, Amerika Serikat. Sayangnya, proyek yang menjadi cikal bakal AC ini tidak sempat disempurnakan.

Akhirnya, Insinyur dari Amerika Serikat, Willis Haviland Carrier menyempurnakan proyek tersebut sebagai solusi pada masalah yang terjadi di sebuah perusahaan percetakan. Setelah berhasil digunakan, penggunaan AC di rumah-rumah mulai dikembangkan pada 1927 di sebuah rumah kawasan Minneapolis Minnesota.

  • Penggunaan AC di Indonesia

Keberhasilan Carrier menyempurnakan proyek yang terhenti di tangan Dr. John Gorrie sebagai cikal bakal AC mulai beredar dari mulut ke mulut. AC ciptaannya dipatenkan pada tahun 2 Januari 1906.

Permintaan pun mulai berdatangan setelah lulusan Cornell University itu mendirikan Carrier Engineering Corp, perusahaan miliknya sendiri. Bahkan AC yang sebelumnya disuplai untuk bangunan-bangunan megah atau rumah-rumah orang berkantong tebal, mulai memenuhi permintaan secara global.

Kendati sempat kehilangan auranya dan mulai dipasang di rumah-rumah orang baisa, Studi Proceedings of the National Academy of Sciences pada 2015, yang menyebutkan bahwa sebanyak lebih dari 3 miliar orang di kawasan daerah tropis maupun non tropis sudah menikmati hawa dingin dari embusan AC. Tak terkecuali pula di Indonesia, AC yang dikembangkan Carrier turut mempengaruhi kebiasaan masyarakat Indonesia yang sebelumnya memanfaatkan kipas berbahan kayu untuk mengusir hawa panas.

Di tanah air sendiri, AC merupakan sebuah kebutuhan, mengingat Indonesia beriklim tropis dan suhu hangat cenderung mendominasi di setiap tahunnya. Bahkan kini, banyak perusahaan yang memproduksi AC di Indonesia untuk memenuhi tingginya permintaan masyarakatnya.

Sayangnya, penggunaan klorofluorokarbon pada pendingin udara selama beberapa tahun belakangan, disalahkan sebagai penyebab membesarnya lubang pada lapisan ozon Bumi. Sehingga, imbauan atas pembatasan terhadap penggunaan AC digalakkan setelah para pemerhati lingkungan mengkhawatirkan terjadinya pemanasan global.