Analisa Kasus Pandawa Group

Analisa Kasus Pandawa Group

PANDAWA GROUP

  1. Sejarah

Lokasi KSP ini di Jalan Raya Meruyung No. 8A, RT002/RW024 Meruyung, Limo, Depok, Jawa Barat. KSP Pandawa beroperasi di 2015 berdasarkan keputusan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah melalui Surat Izin Usaha Simpan Pinjam Nomor: 260/SISP/Dep.1/IV/2015. KSP Pandawa Mandiri Group didirikan Salman Nuryanto yang hijrah dari kampung halamannya di Pemalang (Jawa Tengah) ke Kota Depok. Nuryanto mencari peruntungan di Depok dengan berjualan bubur ayam keliling. Dia menamakan buburnya dengan nama Pandawa. Informasi lain yang bisa dibaca dalam kolom sejarah adalah pada 2015 KSP Pandawa Mandiri Group berhasil membagikan Sisa Hasil Usaha (SHU) sebesar 22% kepada Anggota.

 

  1. Kronologi
  • 2005 Salman Nuryanto memulai karir sebagai pedagang bubur ayam di depok, Jawa Barat. Ketika usahanya sudah laris manis beberapa masyarakat tertarik untuk berinvestasi pada usahanya agar bisa mengembangkan usaha bubur ayam.
  • Nuryanto memberikan imbal hasil atau keuntungan bagi yang menanamkan uangnya sebesar 10% per bulan. Sehingga banyak masyarakat yang tertarik untuk menanamkan uangnya kepada nuryanto.
  • 2015 nuryanto mendirikan KSP Pandawa Group, yang menghimpun dana dari masyarakat dan menjanjikan keuntungan sebesar 10%
  • semakin banyak masyarakat yang percaya dan tertarik untuk menanamkan uangnya di investasi Pandawa Group ini.
  • KSP Pandawa Group mengantongi izin dari Kementerian Koperasi dan UKM dalam bentuk usaha koperasi. Namun, KSP Pandawa Group sendiri disinyalir menyalahi beberapa aturan dalam usahanya.
  • Dengan berbagai pelanggaran izin usaha dan ditambah dengan penghimpunan dana masyarakat yang menyalahi aturan, Nuryanto dipanggil OJK pada November.
  • Nuryanto diberikan waktu untuk mengembalikan dana ke masyarakat hingga 1 Februari 2017. Namun, Nuryanto pun tidak memenuhi kewajibannya.
  • Nuryanto melakukan penghimpunan dana Rp 500 miliar. Namun berdasarkan informasi lainnya sebesar Rp 3,8 triliun.
  • Jumlah masyarakat yang menitipkan uangnya di Pandawa Group sebanyak 500.000 orang. Namun, kasus ini masih terus didalami oleh pihak kepolisian.
  • Pihak Pandawa akan menyerahkan proposal, apakah pengembalian aset kreditur dengan cara mencicil secara bertahap atau dibayarkan secara sekaligus.
  • Aset Salim Nuryanto dan aset Koperasi Pandawa dapat dilelang dan diberikan kepada kreditur sesuai persentase masing-masing nasabah.
  • Tim penyidik Polda Metro Jaya mendalami kasus tersebut. Salman beserta leader pengikutnya terancam hukuman berlapis. Yakni, pasal 372 KUHP, pasal 378 KUHP, pasal 46 UU Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, dan pasal 3, 4, 5, 6 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang TPPU dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara.

 

  1. Masalah yang terjadi
  • Melakukan penipuan terhadap masyarakat melalui investasi dana
  • Menjanjikan keuntungan 10% untuk yang mau menanamkan dananya
  • Menyalahgunakan izin KSP yang ada dengan melakukan kegiatan lain.
  • Melarikan diri ketika tidak bisa mengembalikan dana dari para investor.

 

  1. Perusahaan travel sejenis

 

  1. Opini dan Cara menghindari penipuan

Nuryanto memiliki ide mendirikan sebuah koperasi dengan mengumpulkan para pedagang bubur sebagai anggotanya. Bisnis Nuryanto pun merambah ke investasi yang ditujukan untuk mendanai para pengusaha kecil dan menengah. Dengan iming-iming keuntungan sebesar 10 persen, bisnis investasi Nuryanto berkembang pesat. Dari mulut ke mulut informasi ini berkembang luas dan mendatangkan ribuan investor dari berbagai daerah.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah memanggil bos Pandawa Group berulang kali.Investasi bodong berkedok koperasi tersebut menawarkan return 10 persen per bulan dari setiap modal yang disetor dengan dibatasi maksimal Rp 50 juta.OJK telah memberikan batas waktu bagi Nuryanto untuk mengembalikan modal investor paling lambat pada 1 Februaripada 30 November Nuryanto sempat mengeluarkan pernyataan bahwa akan mengembalikan 100 persen modal yang disetor selama kurang dari setahun, 40 persen modal yang disetor kurang dari 2 tahun dan 0 persen bagi modal disetor selama lebih dari 3 tahun. namun pernyataan ini dicabut kembali.Agar kasus serupa tidak terjadi lagi ke depannya, dirinya berharap Asosiasi Pembeli Langsung Indonesia sebagai mitra OJK bisa lebih memberi edukasi kepada masyarakat terkait risiko investasi.

 

Untuk menghindari penipuan agar tidak terjadi lagi kasus tersebut , berikut merupakan cara yang bias dilakukan untuk antsisipasi :

  • Mewaspadai promo yang menjanjikan dan menjamin keuntungan dengan jangka waktu yang cepat.
  • Melaporkan kepada OJK jika mengalami kejanggalan dalam investasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *